Thursday, June 30, 2011

*Sebagai Takdir Illahi*


Kehidupan ini...
Fana adanya
Dan itu bukan lagi rahasia
Semua pun menyadarinya
Akan fananya...

Namun...
Tiada dapat ku pungkiri
Aku pun menikmati
Kehidupan fana ini
Sebagai bagian takdir Illahi

Hijaunya ilalang...
Subur menghampar membentang
Aneka warna bunga dunia
Indah bermekaran
Hiasi fananya mayapada

Decak kagum...
Kerap riuh terdengar
Menandakan ketakjuban
Akan indahnya alam
Yang anggun membentang

Bila di sini...
Di alam fana ini
Segalanya begitu indah
Begitu sempurna...
Bagaimana di alam sana...

Di alam kekal..
Alam kekal yang kita nanti
Alam yang di janjikan Illahi
Sebagai tempat terakhir
Kita.... menempuh takdir....


*Tak Perlu Cincin*



Sayang...
Dengarlah...
Bila... suatu saat nanti
Engkau datang meminangku
Aku tak ingin cincin darimu

Cukup bagiku...
Ketulusanmu...
Kesungguhanmu...
Menerimaku... apa adanya
Mencintaiku dengan segenap jiwa

Ketahuilah...
Aku bukanlah wanita
Yang suka permata
Aku bukanlah wanita
Yang silau harta benda

Entahlah....
Semakin berkurang umur diri
Semakin aku sadari
Perhiasan itu tiada berarti
Merepotkan diri sendiri

Sayang... ingatlah...
Pesan yang ku ukir
Ku tak perlu cincin
Cukup ketulusan hati
Sebagai tanda ikatan batin

Tak perlu cincin
Sebagai simbol cintamu
Tak perlu cincin
Sebagai tanda kasihmu
Dapatkah kau pahami aku...

Wednesday, June 29, 2011

*Di Sana*


Sayang...
Aku ingin hidup di sana
Di antara hijaunya alam
Dan sejuknya suasana
Di sana ku ingin berdiam

Sayang...
Tiada ingin kemewahan
Gemerlapnya dunia
Tiada pula ketenaran
Menjadi tokoh ternama

Namun...
Ku ingin kedamaian hati
Membangun bahtera
Di pegunungan nan sunyi
Mengukir indahnya cerita

Dan di sana...
Kita kan slalu bersama
Melewati hari demi hari
Memahat kisah penuh pesona
Di bawah langit yang slalu berseri

Lihatlah...
Beningnya telaga di kaki gunung
Tawarkan kesejukan tiada tara
Hijaunya hutan kini merenung
Menanti jawaban dari senyum kita

Marilah sayang...
Percepat langkah kita
Meniti jalan ini
Agar segera sampai di sana
Diantara indahnya alam ini

Friday, June 24, 2011

*Bangkitlah*



Hembusan angin malam
Kian dingin menusuk tulang
Hening sepi mencekam
Tanpa cahaya bintang

Dan kau...masih tenggelam
Dalam kisah cinta usang
Rindu terus kau pendam
Tiada keberanian berterus terang

Kau masih tetap bungkam
Menanti sebuah titik terang
Di pekatnya gelap malam
Hingga adzan subuh berkumandang

Jangan hanya duduk terdiam
Bangkitlah sebelum langit terang
Tinggalkan kebisuan mencekam
Di cakrawala nan lapang

Ingat firman Allah yang tersulam
Di lembar Al-Qur'an tlah tertuang
Petunjuk hidup nikmati alam
Agar bahagia dapat kau terjelang

Seindah pancaran cahaya batu pualam
Sinar keikhlasan semakin terang benderang
Tumbuhnya cinta dari dalam
Menjadi penerang gelapnya ruang....

HK, 21 June 2011

Wednesday, June 22, 2011

*Jembatan kehidupan*


Jembatan kehidupan
Kadang tak seindah harapan
Langkah awal tuk meniti
Siapkanlah jiwa dan hati

Waspada dalam melangkah
Buanglah segala resah
Mantapkan niatkan diri
Tuk berjuang dan berbakti

Sebagai daya upaya
Untuk menggapai ridho-Nya
Dalam mencari rejeki
Di dunia fana ini

Jembatan kehidupan yang terbentang
Kadang rapuh dan berlobang
Untuk itu cobalah lebih teliti
Dalam menempuh medan bakti

Indahnya pesona dunia
Menggoda para aulia
Hanya yang berhati suci
Yang kan mampu menghindari

Untuk itu...
Tingkatkan iman dan taqwamu
Agar jiwa dan hati
Selamat di akhir nanti...

HK, 20 June 2011

Tuesday, June 21, 2011

*Menuju Cinta-Mu*



Sudah saatnya tuk melangkahkan kaki
Menggapai segala cita dan cinta
Saatnya untukku berlalu pergi
Dari kesendirian nikmati senja

Kini saatnya tuk tentukan arah
Membuka hati menjalin rasa
Menjalin rindu menuai berkah
Buah bahagia kemurnian cinta

Lama sudah ku abaikan sebuah rasa
Ku biarkan semua rindu berlalu
Mengisi keindahan istana rasa
Karena ku yakin akan karunia-Mu

Kau yang hadirkan syahdunya rasa
Pada setiap hamba-hamba-Mu
Dan Kau yang tumbuhkan cinta
Pada insan yang sabar menunggu

Menunggu akan takdir hidupnya
Dengan lantunan dzikir pada-Mu
Kau-lah pemilik syahdunya cinta
Yang ku rindu tuk sejukkan istana qolbu

Belai lembut kasih-Mu
Dalam setiap desah nafas hamba
Adalah wujud symphoni kasih nan merdu
Selembut semilir angin swarga-loka....

HK, 19 June 2011

Monday, June 20, 2011

*Kembalilah Menuai Rindu*



Masih ingatkah duhai ibunda
Saat pertama kita saling jumpa
Tapak tangan erat menyatu
Beruluk salam syahdu mendayu

Seiring waktu merentang masa
Tali silahturahim terjalin mesra
Lembut santun budi bahasamu
Sejukkan kegersangan jiwaku

Kaulah pelipur lara
Kala diri di landa duka
Kaulah penghapus pilu
Pengusir gelisah dalam hatiku

Kini...saatnya kau kembali
Ke pangkuan ibu pertiwi
Di sana... keluarga tercinta
Telah menunggu begitu lama

Cukup sudah kau berjuang
Demi keluarga tersayang
Kembalilah menuai rindu
Dalam balutan kasih nan biru

Hanya do'a yang ku rangkaikan
Sebagai teman di perjalanan
Semoga damai baluri hati
Rahmat dan berkah kian membanjiri...

HK, 19 June 2011

Friday, June 17, 2011

*Lirih Sapamu*


Lirih sapamu...
Lembut terdengar...
Bening bola matamu...
Indah berbinar...

Santun budi bahasamu...
Berhiaskan senyuman...
Tenang gayamu...
Hadirkan kewibawaan...

Sungguh jauh dari anganku...
Kau mampu tumbuhkan rasa...
Kau percikan cahaya ungu...
Pada jiwa rapuh tiada daya...

Bagai bunga di musim semi menyaru...
Kau buat wajah ku berseri lagi...
Bagai bulan di gelap malam kelabu...
Kau terangi gulitanya hati...

Sujud syukurku pada-Nya...
Asa ku kembali bersemi...
Bersama kedahsyatan do'a...
Kita gapai cinta Illahi...

Do'a yang terangkai dengan indah...
Dengan segenap kesungguhan jiwa...
Tercipta dari lubuk hati berbuah...
Tertuju hanya untuk-Nya...

Maha Pemberi rasa di hati..
Maha Kuasa Penyambung asa...
Maha Pemersatu dua jiwa insani...
Maha pemberi bahagianya jiwa...

Thursday, June 16, 2011

*Cinta Putih*


Cinta putih kini tlah kembali
Hadir penuhi relung hati
Harum semerbak wangimu
Hiasi istana qolbu ku

Kau yang lama menghilang
Kini tlah kembali pulang
Memeluk hangat istana biru
Dengan belaian lembut kasih-Mu

Cinta putih kini bersemi lagi
Tumbuh indah berseri-seri
Bagai tetesan embun syurga
Kau hilangkan dahaganya rasa

Cinta putih membawaku kembali
Pada arah tujuan yang pasti
Mengukir asa di relung qolbu
Bermuara di ujung rindu

Rindu akan indahnya kasih-Nya
Yang senantiasa lembut menyapa
Rindu akan halusnya cinta Illahi
Yang tiada pernah terganti

Trima kasihku pada-Mu
Atas cinta putih-Mu
Yang kini memeluk nadi
Mengiringiku menggapai mimpi....

Tuesday, June 14, 2011

*Mana Janji Manismu*


Lihat...lihatlah...
Jerit tangis yang kian memecah
Diantara hamparan rerongsokan
Di atas puing-puing berserakan

Di manakah ayah bundanya
Di manakah handai taulannya
Mengapa di biarkannya sendiri
Tiada pengasuh menemani

Mengapa harus ada potret pilu
Gadis mungil menangis tersedu
Inikah bukti hilangnya kasih
Hingga merebak jerit merintih

Hai... kau yang bergelimang harta
Adakah jiwamu tergetar melihatnya
Kala menyaksikan jeritan pilu
Yang terpampang di hadapanmu

Hai... kau sang pejabat negara
Di atas kursi mewah kau berjaga
Apa yang kau lakukan
Tatkala rakyatmu butuh sentuhan

Hai ... kau para pemimpin negeri
Di manakah janji yang pernah tersaji
Tuk musnahkan derita rakyat jelata
Dan ciptakan kemakmuran di bumi persada...

HK, 14 june 2011

*The Most Powerfull*



It's really wonderfull
When you try to look around
How beautifull this world
How great this world

See that waterfall
So great so nice
The cave around
And the fantastic stream

See all the tree around there
So green so nice
Let's feel it...
The freshness air

This life was so perfect
This world was so great
Who has make it
The whole universe

Allah is the most powerfull
The creator of you and me
The creator of this world
The creator of  heaven

He is the most perfect
The most powerfull
That make everything in this world
With special love and touch....

HK, 14 June 2011

*Sisa Tetesan Hujan*



Sisa tetesan air hujan
Masih membasah berkilauan
Melekat di tiap lembarnya
Aneka daun penuh warna

Sisa tetes air hujan pagi tadi
Hadirkan kesegaran alami
Pulihkan semangat dalam dada
Ciptakan kekuatan yang tiada terkira

Kesejukan alam sekitarku
Menyeruak meresap dalam batinku
Kedamaian kian terasa
Kala rahmat-Nya kembali menyapa

Allohhu Robbi...
Kasihmu lembut membasuhi
Jiwa-jiwa kering kerontang
Di sepanjang padang ilalang

Yaa Allah yaa karim
Di setiap musim dan iklim
Kau tebarkan pesona swarga loka
Penuh kasih sejukkan jiwa

Sisa tetesan hujan
Pancarkan murninya kebeningan
Kebeningan cinta-Mu
Pada seluruh alam dan ciptaan-Mu...

HK, 14 June 2011

*Bias Cahaya Senja*



Bias mentari senja
Masih hangat meraba
Lembut menusuk menyapa
Relung hati di padang rasa

Ku tatap indahnya senja
Kala biasnya temaram mewarna
Ku sapu ujung nirwana
Lewat kedua netra yang ada

Sepi jalanan sepanjang senja
Kala melintas kelebat gadis kota
Dengan gaya hipnotisnya
Tergerai mahkota indahnya

Membuat anganku bertanya
Pada deret memory di dada
Ingatkah legenda gadis desa...?
Kala jauh dari hidayah-Nya

Nikmati waktu yang ada
Berkeliling halaman istana
Dengan bersepeda ria
Hingga malam hadir menyapa

Di sana waktu habis percuma
Kala bias cahaya senja
Terlerai tiada tertata
Tidakkah semua seakan sirna...?

Sunday, June 12, 2011

*Di Pantai Biru*



Di pantai biru
Saat kau dan aku
Bertemu dan mengukir rindu
Dalam belai desir sang bayu

Di pantai biru kala itu
Kau berdiri termangu
Menatap tiap detak langkah kaki ku
Menapaki hamparan pasir yang membisu

Di pantai biru detik itu
Kurasakan getaran dalam qolbu
Satu hasrat yang tak menentu
Kala netramu menatap dalam padaku

Di pantai biru waktu itu
Berdebaran hatiku
Kala senyumanmu
Hiasi wajah manismu

Dan di pantai biru
Ada rasa tumbuh di hatiku
Dan saat tertunduk malu
Ada rindu hiasi jiwaku

Mungkinkah di pantai biru
Kita kan kembali bertemu
Menuai gumpalan rindu
Setelah sekian lama berlalu...

HK, 12 June 2011

Friday, June 10, 2011

*Mutiara Kasih Biru*


Sinar kasih yang terpancar
Semakin indah bersinar
Sebening titik embun pagi
Saat bias mentari hadir menemani

Kilauan indahnya cinta
Kau tebarkan penuh pesona
Hasrat hatimu kembali
Menyirami kegersangan hati

Pada angin di persimpangan
Ku sampaikan sebuah pesanan
Pada barisan kepak merpati
Ku kabarkan risalah isi hati

Mutiara kasih biru
Berporos di kedalaman qolbu
Kudamba mahligai cinta
Bagai beningnya air syurga

Mutiara kasih biru
Kian indah melantun syahdu
Bagai buai kasih asmara
Antara Allah dengan hambanya

Mutiara kasih biru
Kudambakan kehadiranmu
Melembutkan kerasnya rasa
Yang bersemayam di dalam dada

HK, 10 june 2011

Thursday, June 9, 2011

*Kisah Sendu Sang Pujangga*



Gelombang kehidupan kian menderu
Menyisir luasnya samudera terbaru
Desir angin kencang menerpa
Bagai amukan malam tak berpelita

Langit malam sendu membisu
Tiada berkesan di malam kelabu
Kala purnama syahdu menyapa
Pantai kehidupan seorang pujangga

Bagai camar di langit kelabu
Kau terbang mengitari lautmu
Bagai merpati di malam sepi
Kau terbang menggapai mimpi

Kesejukan hati kian menyatu
Kala jilatan ombak santun bertamu
Ketenangan hati kau genggam kembali
Kala bias cahaya purnama memikat nadi

Pujangga di malam syahdu
Duduk terdiam memintal rindu
Pada rangkaian mutiara kata
Utarakan lembutnya rasa

Setara deru ombak di pantai biru
Meliuk rasa di rongga qolbu
Tersenyum tipis menatap langit
Mencoba bangkit walau terasa sulit...

HK, 09 June 2011

Wednesday, June 8, 2011

*Yang Gila Yang Waras*

Di ujung jalan setapak nan sepi
Beliau berjalan seorang sendiri
Sosok insan yang seolah tak berakal
Dengan tatanan rambut gimbal

Dekil tak terawat
Kusam kesan yang melekat
Pakaian kebesarannya
Penuh ventilasi di mana-mana

Berbicara seorang diri
Tawanya pun mengiringi
Kala klakson mobil terdengar
Beliau menyingkir ke trotoar

Di lain kesempatan di ujung jalan
Para pemuda berjalan beriringan
Kala klakson mobil terdengar
Tak jua minggir ke trotoar

Namun... teriakan di lontarkan
"Berisik...!!"  cukup mengagetkan
Membuatku bertanya dalam hati
Akan kedua kisah tadi

Nyatanya... yang gila masih berakal
Dan yang waras kehilangan akal
Di tengah dunia yang panas
Ternyata yang gila yang waras...

HK, 08 june 2011

Monday, June 6, 2011

--> Misteri Gitar Tua <--



Senja kian sunyi, tatkala desir angin menyapa dan menyisir hamparan rumput kering di pelataran sebuah bungalow milik seorang saudagar china yang kaya raya. Sedan lux hitam mengkilat terparkir tak jauh dari gerbang utama. Deretan aneka warna bunga dan tanaman hias menghiasi halaman bungalow yang terhitung lux dan megah itu.

Di samping bangunan megah itu terlihat seorang wanita paruh baya duduk menikmati hidangan senja, secangkir chinese tea dan sepiring kue kering buatan tangan pembantu kesayangannya. Sembari mengunyah kue kering di mulutnya, matanya tertuju ke arah pintu samping yang nampaknya tidak di tutup itu. Seperti mencari sesuatu, atau mungkin sedang menunggu seseorang yang di nantinya. Kembali pandangan matanya menyapu hamparan rumput kering yang berserakan di sisir desiran angin senja. Kembali di seruputnya chinese tea dalam cangkir mungil nan mewah itu. Sembari memandang ke arah pintu. Senyumnya nampak berbinar, tatkala yang di tunggunya hadir menyeruak dengan membawa sebuah gitar tua kesayangannya.

"Sasa, kem loy ge...? (Sasa, kok lama banget...?)"  Suaranya datar menanya, seraya menampakkan wajah seolah ngambek namun di sertai senyuman ramah dan lirikan manjanya.
"Mbo iesyi thai thai, dao sin siu ce kiu ngo pong ha ghoe. (Maaf Nyonya, tadi nona nyuruh saya coba membantunya)."  Kata gadis mungil itu menerangkan dengan senyum renyahnya, sembari memberikan gitar tua yang di bawanya kepada majikannya.

Wanita paruh baya itupun segera menyambut gitar tua kesayangannya. Dengan lincah jari-jemarinya mulai menari diantara senar-senar gitar tua itu. Dentingan syahdu yang terdengar begitu merdu, membuat Sasa hanyut dalam lantunan nda-nada symphoni yang mengalun dengan indah. Sebuah lagu mandarin berjudul "Ni ce mo shuo" milik Teng Li Cin, seorang artis Taiwan yang telah lama meninggal di usia muda, mulai di nyanyikannya. Di sambut lirikan dan senyum ramah wanita paruh baya itu. Keduanya nampak sepakat tuk bernyanyi duet, lewat sorot mata yang saling bertautan.

Betapa indahnya kebersamaan itu, seolah tiada jeda antara majikan dan pembantu. Kehangatan tercipta begitu hangat di penghujung senja yang indah kala itu. Keduanya hanyut dalam syahdunya romansa dentingan merdu gitar tua. Selesai satu lagu berganti lagu lain. Ternyata wanita paruh baya itupun mahir dalam mendendangkan lagu-lagu oldies tahun '80 an. Dan si mungil Sasa pun nampaknya tak kalah perfect dalam menyanyikan lagu-lagu oldies kesayangan majikannya itu.
Tak ayal bila kehangatan senja itu sempet membuat cemburu putri bungsu sang majikan, yang tanpa sepengetahuan mereka sempat mengintip di balik jendela kaca tepat di belakang keduanya melantunkan nada-nada indah bernuansa syahdu mendayu itu. Saat itulah kedua mata Sasa menangkap kehadirannya. Sasa pun segera menyapanya dengan senyum ramahnya dan ceria yang slalu lekat di wajahnya.

"Siu ce, yat chai lah... ngo tei dong mammi yat chai cong ko hou mo...? (Nona,gabung yuk... kita nyanyi bareng mammi mau gak...?"  Seraya melambaikan tangannya ke arah gadis chinese berambut panjang yang berdiri di balik jendela. Sementara yang di ajak hanya geleng kepala, sambil menunjukkan wajah jealousnya.

Sasa pun memahami apa yang sebenarnya ada dalam benak anak asuhnya itu. Segera iapun undur diri dari hadapan majikannya, dan segera menghampiri gadis cantik yang ternyata bernama Angel Lim itu.
Setengah berlari Sasa menyeruak ke dalam bangunan mewah itu dan segera menghampiri Angel yang ternyata telah berjalan menuju "Study Room" tempatnya nongkrong berjam-jam karena tugas sekolahnya yang se-abreg itu. Sasa segera merangkul Angel yang masih bermuka masam itu, bahkan dengan sengaja wajahnya di bikin semasam mungkin, membuat Sasa geli melihat tingkah anak asuhnya itu. Tangannya segera meraih pundak Angel sambil sedikit menggodanya.

"Hey... my pretty Angel... what happen with your pretty face... why i see something dark in your face... is it going to be rinning...? hehehe... Smile please... " Godanya sambil memegang dagu putih Angel.
"Why you go so long, just now you tell me that you will be hurry to come in, but what you do...? You singing with my mother..." Dengan wajah sewotnya Angel mulai beraksi membuat pembantunya terpana sesaat. Belum sempet Sasa memberikan alasan, Angel kembali sewot.
"Don't you know...? i have no time..., all my home work must finish today. I need to type all of this, and i still need to do another home work. You promise will help me, why you always help my mother first...? you make me angry..."  Derai air matanya mulai tumpah membasahi kedua belah pipinya yang putih mulus tanpa jerawat. Membuat Sasa iba menahan tawa. Lalu Sasa segera menenangkan hati momongannya itu.
"Ok, my pretty Angel... i'm so sorry about it. And please no more cry ok...? Don't worry, i promise will type all of this for you. Promise me, no more cry... smile please..." Sambil menatap tajam wajah mungil di hadapannya. Sementara yang di tatap nampaknya masih belum bisa tersenyum.
"Please... i need your smile, without your smile i can't do anything." Seraya menunjukkan wajah memelas dan sedikit menahan tawa.

Akhirnya bidadari kesayangannya pun kembali tersenyum ceria walaupun masih sedikit tersisa merah rona wajahnya akibat tangisnya yang sempet mampir di senja yang indah kala itu.Begitulah, keduanya nampak dekat. Enam tahun sudah Sasa bekerja di rumah mewah itu. Sasa merasa seperti berada di tengah-tengah keluarganya sendiri, karena keramahan dan kasih antara mereka yang tulus. Sasa begitu menyayangi Angel, begitupula sebaliknya. Mereka ibarat sahabat karib yang susah di pisahkan. Angel akan lebih memilih makan di rumah daripada menghadiri undangan makan teman-temannya atau keluarga dekatnya. Walaupun terkadang Sasa hanya memasak masakan simple kesukaan Angel.

Sebenarnya Sasa juga tergolong galak dan keras, tidak semua keinginan Angel di turutinya. Apalagi ketika berat badan Angel melebihi batas normal ukuran seorang gadis remaja. Sasa sering mengurangi porsi makan Angel, terutama makanan yang berkolesterol seperti daging. Sasa sendiri lebih suka memasak sayuran untuk dirinya sendiri dan untuk Angel, tatkala hanya berdua tinggal di rumah mewah itu.Senja kian beranjak meniti malam, saatnya bagi Sasa tuk meninggalkan Angel dan melakukan rutinitas senjanya.

*Ikuti kelanjutan kisahnya dalam novel berjudul "Misteri Gitar Tua" buah karya Khasanah Roudhotul jannah*

*Murninya Cinta Kasihmu*



Kau yang di landa kebisuan
Dalam hening yang bertautan
Sendiri kau renungi
Alur hidup yang telah kau lalui

Kau yang termenung melena
Pada bisik lembut kelana
Terdiam dalam sudut kenangan
Membias resahnya perasaan

Kau yang kini kian mandiri
Hasrat hatimu kian terpatri
Tegak langkahmu kian melaju
Melawan deru kelebat sang waktu

Kini... kau putuskan untuk sendiri
Jalani hidupmu seorang diri
Alihkan segala rasa di dada
Untuk Dia Yang Maha Kuasa

Hanya kepada-Nya kau kembali
Mencurahkan segala kerinduan hati
Tak ingin membagi rasa
Tak ingin menduakan-Nya

Syahdu cintamu pada-Nya
Menyentuh seisi relung jiwa
Murninya cinta kasihmu
Hanyutkanku dalam hening nan syahdu

HK, 06 june 2011

Sunday, June 5, 2011

*Beri Kami Keadilan*



Kau sebut kami "Pahlawan Devisa"
Penyumbang terbesar devisa negara
Kala bertambah pendapatan negara
Kau pun tersenyum bangga

Lalu... pernahkah kau coba
Mendengar jeritan "Pahlawan Devisa"
Menanggulangi masalah yang ada
Tanpa menambah beban padanya...?

Kami tahu kami paham
Berbagai kebijakan coba kau sulam
Namun... renungkan dalam-dalam
Sebelum kau terjun menikam

Apalah arti kebijakan
Apa gunanya perundang-undangan
Bila akhirnya semakin menyulitkan
Nasib "Pahlawan devisa" di perantauan

Beri kami keadilan
Agar kami tenang di perantauan
Revisi kembali jenis perundangan
Yang semakin menyudutkan

Beri kami keadilan
Beri kami penyelesaian
Agar kami segera terbebasan
Dari pemerasan berkedok kebijakan

HK, 05 june 2011

Saturday, June 4, 2011

--> To The Mui Tsz Lam <--



To get to the Mui Tsz Lam, you can take KCR to the University station, and than head to the bus stop, whic is just opposite to the KCR station, to take the bus No.289K to Chevalier Garden.
After getting off, you can go through Chevalier Garden, where you can find a little brigde, leading to Mui Tsz Lam Road. Walk along the Mui Tsz Lam Road for around 20 minutes and you will reach the entrance into the Mui Tsz Lam Village.


Mui Tsz Lam literally means: "Forest of Plum", with exactly the same English and Chinese name. On Hong Kong map, you can find two places called Mui Tsz Lam. The first Mui Tsz Lam is located near Chu Mun Tin and kop Tong, within Plover Cove Country Park. Double Haven lies in its east, while Tiu Tang Lung and Wu Kau Tang lies in its south.  But this time... i'm going to look at another Mui Tsz Lam in stage 4 of the MacLehose trail within the Ma On Shan Country Park.

The first time i came to this Mui Tsz Lam in the fasting month of moslem last years. Early morning on that day i prepare everything that i need, for example my own HK ID Card, my sweet camera, my mobile phone, my wallet with some money, and my small towel. All of that things i put inside my small bag. On that day is the fasting day so i no need to prepare any water or any food. From apartement that i lived, i need to walk to the upper bus terminal called Wong nai Tao bus terminal. Start from that terminal i going up to step to the first villages that many bungalow and small beauty villa's around there. Its was so fantastic when walk along the way, you can see all around you was so green and you can smelled the taste of fresh grass when the shines of sunrise going to burning the earth around you.

Just walked for few minutes you can find the small stream. There is a stream gurgling in Mui Tsz Lam. And the stream bed are full of rubbles with different shapes and carpeted by moss with different green colours. You will became totally beguiled by unique features of Mui tsz Lam when you see that stream gurgling. For me, vitality prevail in this tiny but that's really unique place. And at that time suddenly i go down to the stream just wants to touch the water of the stream. I wash my hands there, playing water for a while and of course taking a foto for few second. Thats placed really make me felt like i was going back in my old memories when i was very young over many years ago.

I'm not alone there, in another side on the stream under the tree i saw an old man was enjoying the water of the stream. He washing his hands and he moved inside the stream to washing his face and his leg.  After walking around just for hiking, is the best idea to get the fresh moment by washing your face in that tiny unique stream.

During the heavy rain, you can see everything became wet. But after the heavy rain, the great amount of water will keeps pouring down to the stream, is offering a great opportunity for scenic photography. When everything still wet, which is rather contrasted with those in normal dry days. But this time is sunny day without any rain. So i can enjoyed to walk around to the stream in Mui Tsz Lam without feeling worried to be slippered when stepping on the stone of the stream.

After that i walking home by following the step way that already has been design very nicely and safety.

HK, 04 june 2011

Friday, June 3, 2011

*Buah kebeningan hati*


Kau yang pandai menjaga lidah
Tutur katamu selalu indah
Kelembutan santun bahasa
Tertata penuh pesona

Kau yang pandai menguntai madah
Dengan alunan symphoni terindah
Tebarkan pesona rahasia rasa
Taburkan kedamaian dalam jiwa

Kau yang pandai menepis resah
Seraya menghapus guratan gundah
Alirkan gumpalan kerinduan
Pada palung kesetiaan

Kau yang tulus menuang rasa
Kebeningan hatimu kian terasa
Seindah pesona senyuman
Diantara tawa riang keceriaan

Itulah buah kebeningan hati
Yang senantiasa membaluti
Lahiriah jiwa insan manusia
Lukiskan senyum bahagia

Kebeningan hatimu kan terpancar
Pada sorot mata yang berbinar
Hadirkan kharisma berpetuah
Bagai kuncup bunga terindah

HK,04 june 2011

*Hadirmu Obati Rinduku*



Bunga-bunga bermekaran di taman hati
Kala santun salammu menyapa diri
Rindu hati kini terobati
Senyumku pun kembali berseri

Lihatlah langit istana hatiku
Semakin indah memancar biru
Secerah senyuman mutiara qolbu
Kala jiwa bernyanyi merdu

Awan biru di puncak nirwana rasa
Teduhkan pelataran istana cinta
Selaras syahdunya badai asmara
Menerpa tebarkan aroma wangi bunga

Ritme irama symphoni hati
Selembut tarian sang bidadari
Syahdunya benih-benih rindu ini
Sesyahdu suara indah sang peri

Hanya bahagia yang kini melanda
Lukiskan keceriaan seisi jiwa
Rasa syukur yang tiada terkira
Terlantun lewat khusyuknya do'a

Sujud syukur kita pada-Nya
Atas limpahan cinta
Dan penyatuan jiwa kita
Dalam indahnya mahligai rasa...

HK,04 june 2011


 

Thursday, June 2, 2011

*Ketika Senja Mengadu*



Di senja itu
Langit tak lagi biru
Gelap pun kian menyaru
Warnai sendunya duniamu

Kilatan petir menyambar
Gemuruh suaranya menggelegar
Senyum di wajahmu kian memudar
Di gubug bambu engkau bersandar

Gerangan apakah yang telah terjadi
Hingga kusut wajahmu terbaluti
Adakah sayatan di hati
Sebabkan luka tiada terperi

Kau ungkapkan resah di jiwamu
Ada ketakutan selimuti qolbu
Tiada ketenangan di sukmamu
Kecemasan telah memayungimu

Tenangkanlah hatimu
Hilangkanlah ketakutanmu itu
Tiada mungkin ku korbankan hatimu
Demi sesuatu yang tiada menentu

Tersenyumlah sayang
Selebar hamparan padang
Teduhkan hati nan bimbang
Agar hatimu kembali tenang...

HK, 03 june 2011

*Bagai Rintik Hujan*



Damainya hatiku
Kala ku ingat tentangmu
Kekasih hati penyejuk jiwa
Yang slalu hadir menuang rasa

Kehadiranmu dalam hidupku
Mampu sirami kegersangan qolbu
Bagai guyuran rintik hujan
Sirami bunga di pelataran

Tak hanya bunga di taman
Yang segar bermekaran
Alampun kembali tenang
Kegersangan kini menghilang

Begitulah gambaran taman hati
Kala dirimu singgah di sini
Temaniku menghapus duka
Membawaku ke ujung nirwana

Dalam rengkuhan kekar tanganmu
Ku melangkah menyemai rindu
Senada senyum ceria menyapa
Wajah manismu kian merona

Damai hati kian bersemi
Lembutnya kasih terus kau beri
Akankah kita bersama
Menjalin indahnya cinta...

HK,02 June 2011