Tuesday, May 31, 2011

*Sebiru Cintaku Padamu*



Getaran rasa di hati ini
Kan selalu syahdu mengiringi
Penuh kelembutan cinta
Yang indah bagai permata

Gendang-gendang istana hati
Bertabuhan mengalun pasti
Syahdu merdu kian membahana
Suara irama symphoni jiwa

Percayalah akan kebeningan cinta ini
Sebening embun di pagi hari
Yang senantiasa sejukkan jiwa
Penghilang segala dahaga

Kaulah kekasih hati
Bertahta di megahnya sanubari
Padamu ku kan slalu merindu
Untaikan senandung cinta nan biru

Kasih...keindahan mawar biru ini
Lembut sejuk wangi terbaluti
Membiru tiada meragu
Terpancar kelembutan rindu

Kasih biru indah menyinari
Kelembutannya semakin berarti
Sebiru cintaku padamu
Yang tak lekang oleh waktu....

HK, 01 June 2011

*Selaksa Warna Cinta*



Selaksa warna cinta menapak senja
Menghiasi indahnya cakrawala rasa
Meleburkan selaksa raga nan lena
Meniti indahnya mutiara kata

Selaksa warna cinta berselendang mega
Menggugah gejolak rasa dalam jiwa
Menghapus gumpalan ragu yang lama melaga
Menitikkan tetes mutiara rasa

Selaksa warna cinta berpayung jingga
Untaikan mesranya kalimah jiwa
Semarakkan suasana rindu di dada
Di perputaran semenanjung sukma

Selaksa warna cinta bersenandung mesra
Alirkan gelombang kisah asmara
Merajut mahligai penuh pesona
Pada dinding jiwa berpalung rasa

Selaksa warna cinta meraja
Penuhi luasnya samudera rasa
Hiasai indahnya taman istana jiwa
Seiring bias gemerlap cahaya suci-Nya...

HK, 31 may 2011

--> Sungguh Luar Biasa <--

Siang terlihat terus beranjak meniti hari yang kian sepi dengan iringan riuh suara mesin-mesin jalanan. Dan di telinga kiriku menempel hp jadul kesayanganku dan tentu saja ada suara seseorang di dalamnya. Suara seorang sahabatku yang jauh di seberang, seorang bidadari kecil dengan suara yang lembut mendayu. Lagi asyik-asyiknya ngobrol suara hp jadul di pojok mejapun berbisik untuk sesaat, rupanya cuma misscall. Sambil tetap fokus ndengerin suara si bidadari kecil, aku pun segera melihat daftar list nama dan nomer telpun yang masuk daftar merindukan suaraku, ehem... sedikit pede neh... Masih enggan untukku berlalu dari suara bidadari kecil ini, hingga pihak operator menyalakan alarm pertanda pulsa limit dan harus segera offline dari calling-mengcalling... (wah ini bahasa mana neh, bisa kena komplin guru bahasaku neh kalau ketahuan) .
Tak berapa lama kemudian aku pun segera undur diri dan mengucapkan salam perpisahan dan belum sempet ku mendengar salam balasan namun suara telpon sudah tut tut tut....

Selanjutnya akupun segera mengambil hp jadul di pojok meja yang sempet berbisik sesaat. Segera aku menelpon balik ke nomer tersebut. Seorang sahabat di Hong Kong yang sama-sama terlibat dalam organisasi. Tak berapa lama telponku pun segera di angkatnya. Salam berbalas salam, teriring sapa canda ciri khas kami sebelum memulai pembicaraan ke arah yang lebih serius. Sesaat kemudian beliau mulai mengutarakan maksud dan tujuannya menelponku. Ternyata ingin membicarakan seputar tumpeng nasi kuning yang akan aku pesan.

"Dhek, saya mau nanya... tumpeng yang untuk minggu ketiga apa sudah di pesankan ke toko indonesia?" Tanya beliau dengan penuh santun dan kelembutannya.
"Saya minta tolong pada mbak ida untuk memesankannya mbak, sudah di pesankan atu belum saya kurang tahu mbak..." Jawabku sedikit menerangkan dan berusaha membalasnya dengan suara lembut, walaupun tak selembut dan sesantun beliau.
"Gini dhek... mbakyu angkat saya kan insya Allah mau datang ke acara nanti, subhannalloh.... beliau menawarkan bantuan untuk memasak, beliau juga bisa membuat nasi tumpeng... bagaimana kalau adhek pesan nasi tumpeng sama mbakyu angkat saya saja. Kebetulan tadi saya sudah tanya mbak Ida, beliau bilang pesenan adhek belum di pesenin. Bagaimana dhek...?" Tanyanya menggantung menunggu jawabanku.
"Kalau memang belum di pesenin ya gak apa-apa mbak, makasih banget kalau gitu ya mbak." Jawabanku mengakhiri bahasan tentang nasi tumpeng.

Dan kami pun masih melanjutkan obrolan ke lain topik, dan kebetulan di dalam juga ada seorang teman lagi yang turut dalam conference call. Kami bertiga asyik berbincang-bincang hingga tiba pada pembahasan seputar jodoh. Seperti biasa aku menjadi obyek yang di bahas terlebih dahulu. Mulai dari pertanyaan menyelidik soal pacar dan kriteria pendamping idaman yang aku dambakan. Dengan gamblang akupun memberikan gambaran bahwa setiap wanita tentunya ingin seorang pendamping lelaki sholeh yang mampu menuntunnya dan menjadi imamnya. Namun setiap lelaki juga ingin mempunyai seorang istri yang sholehah dan paling tidak mempunyai dasar-dasar ilmu agama yang setara dengannya. Sedangkan saya hanyalah wanita biasa yang tidak mempunyai dasar agama yang cukup. Saya tidak pernah mengenal yang namanya pesantren, bahkan saya mengalami pendidikan di sebuah sekolah swasta, sekolah katholik selama enam tahun. Keluarga saya juga bukan dari keluarga santri, apa mungkin saya mendapatkan seorang pendamping yang sesuai dengan kriteria yang saya dan kebanyakan wanita idam-idamkan...?

Pertanyaanku di balasnya dengan pertanyaan balik, "Dhek tahukah kau siapa ayah Ali bin Abi Tholib? Dan tahukah siapa Abu Jahal dhek... pamannya Nabi Muhammad saw, yang jelas-jelas menentang perjuangan Nabi dalam menyiarkan agama islam. Nabi Muhammad yang seorang Rasul saja tidak pernah memandang latar belakang keluarga Ali  ketika hendak menikahkan Ali dengan putrinya, Siti Fatimah. Itu semua atas kuasa Allah swt. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Setelah Ali ada dalam genggaman Rosullulloh saw, akhirnya Ali bin Abi Thalib menjadi seorang pemimpin besar yang membela islam. Begitu juga cucu beliau, Hasan dan Husein yang terkisah dalam peristiwa karbala. Coba pahami dhek... kita bisa belajar dari teladan yang di berikan oleh Rosullulloh saw. Jika ada seorang lelaki yang sholeh dan menaruh hati padamu,namun setelah lelaki itu mengetahui latar belakang keluargamu akhirnya memilih untuk meninggalkanmu, maka percayalah dia bukan yang terbaik untukmu.

Seorang ustadzah menikah dengan seorang ustad itu biasa
Seorang anak kiai menikah dengan seorang anak kiai itu biasa
Seorang laki-laki sholeh menikahi seorang wanita sholeh itupun hal biasa

Tapi bila seseorang yang sholeh kemudian menikahi seorang wanita yang tak tahu agama atau katakanlah menikahi wanita yang jelas-jelas bukan dari keluarga santri... atau seorang ustad menikahi wanita yang pernah hidup penuh maksiat, atau sebaliknya seorang ustadzah menikahi lelaki mantan pembunuh dan penjahat kelas kakap misalnya. Nah yang ini SUNGGUH LUAR BIASA.
Mengapa...? karena di sinilah letaknya syiar islam yang sesungguhnya. Inilah tantangan dan kesempatan bagi lelaki sholeh itu untuk menuntun si istri dan menyulap keluarga dari pihak istri yang tadinya bukan keluarga santri menjadi keluarga santri. Dan di sini ada peluang untuk menyadarkan yang dulunya hidup penuh maksiat menjadi seorang hamba yang penuh kesadaran dan pertobatan yang senantiasa berjuang untuk mempertebal keimanan."

Aku dan temanku pun serius mendengarkan wejangan beliau, sambil sesekali menimpali sebagai tanda bahwa kami masih setia mendengarkan petuah beliau yang memang sangat berbobot tersebut. Hingga akhirnya beliau pun bercerita.

"Dhek, adhek tahu siapa calon suami saya...? Seorang penyanyi gereja di jakarta dengan gelar S2. Semula hanya perkenalan biasa dan saudara saya yang mengenalkan. Tapi beliau sebelumnya memang sudah pernah melihat foto-foto saya. Kami berkenalan sudah hampir setahun ini, mula-mula saya tidak terlalu menanggapi karena saya sendiri sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi. Tapi beliau menunjukkan keseriusannya ingin berumah tangga dengan saya dan beliaupun akhirnya memilih islam sebagai agamanya. Walaupun keluarganya bukan keluarga santri, dan beliau sendiri sendiri sebelumnya adalah seorang penyanyi gereja yang taat. Namun saya tetap menerimanya karena beliau akhirnya memilih islam sebagai agamanya.Dan hubungan kami tidaklah mulus begitu saja. Banyak teman-teman dari beliau yang menegurnya dan mencemoohnya dan berkata  'Mengapa seorang pria dengan style tinggi kayak kamu mau berpacaran dengan TKW, bahkan memutuskan untuk menikah...?' belum lagi telpon dari sahabatnya di jakarta yang setahu saya memang suka sama beliau. Sahabatnya itu marah-marah dan mengatakan 'Hey, kamu yang namanya Nur yah...? apa kamu tidak tahu malu, berani-beraninya berpacaran dengan penyanyi gereja yang handal dan bergelar S2....?' Tahu gak dhek...apa jawaban saya waktu itu...?"

"Mbak jawab apa...?" tanyaku penasaran.
"Maaf mbak..., saya mau tanya di sebelah mbak sekarang telpon ada tong sampah gak yah...? Tolong mbak ngomongnya di hadapkan pada tong sampah ya mbak, agar kata-kata mbak tadi masuk ke dalam tong sampah, karena telinga saya hanya untuk mendengarkan kalimat yang baik-baik, bukan kalimat cacian dari mbak."  katanya menerangkan di iringi dengan akhiran tawa kecil.

Aku dan mbak martin pun turut tertawa kecil mendengarkan penjelasan tersebut. Begitulah beliau selalu mempunyai cerita-cerita menarik dan petuah-petuah yang cukup berbobot. Dengan kelembutan budi bahasanya beliau seringkali mampu menenangkan hati para sahabatnya yang di rundung duka. Telah banyak teman-teman dari dunia tomboy dan lesbian yang mampu di ajaknya untuk kembali ke kodratnya sebagai seorang wanita. Pengalaman dan pengetahuan agamanya tak di ragukan lagi, menurutnya mengajarkan kebaikan harus dengan hati barulah tutur kata di sertai tindakan sebagai contoh teladan baik.

*Terinspirasi dari kisah Ainurrohmah yang hendak melangsungkan pernikahan keduanya sekitar awal juli 2011. semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah Warohmah... amien..."

HK, 31 May 2011

Monday, May 30, 2011

*Kesejukan Cintamu*


Kesejukan cinta yang kau tawarkan
Merasuk di kedalaman qolbu
Bagai tetesan embun surga
Kala fajar hadir bertamu

Tak kuasa tepiskan rasa
Kala bayangmu terbias lalu
Tak kuasa ku pendam gelora
Kala hati di rundung rindu

Indahnya kharisma kian terpancar
Baluti ketampanan paras wajahmu
Indahnya rona jiwa penyabar
Terbias pada santun lakumu

Kau yang mampu melaga
Diantara resah jiwaku
Kau yang mampu meraja
Pada angkuhnya dinding hatiku

Tiada lagi sedih melanda
Dalam senja yang kian meramu
Tiada lagi gundah gulana
Kala kesejukan cintamu hadir menyapa

Sejuk segar buai kasih mesra
Bak aliran bayu swarga biru
Sejuk rasa indah pesona
Sesejuk cintamu bertabur rindu...

HK, 30 May 2011

*Warna Cinta Kita*


Aneka warna di sana
Hiasi indahnya cinta kita
Penuh gelora rindu
Yang kian menggebu

Ada bahagia menyeruak mesra
Kala hati kita bertaut manja
Ada duka menyayat pilu
Kala prahara membalut kelu

Kau yang berjiwa besar
Hatimu di penuhi rasa sabar
Kala badai datang menjelang
Menyapa kokohnya karang

Aneka warna cinta kita
Ajarkan ketabahan dalam jiwa
Dengan kelembutan hatimu
Kau mampu luluhkan egoku

Percayalah akan ketulusan hati
Yang slalu ingin berbagi
Walau nyata dinding menghadang
Kokoh tinggi menjulang

Namun indahnya warna cinta kita
Kan tetap indah dengan sinarnya
Memancar indah berseri
Bagai sinar mentari pagi....

HK, 29 may 2011

Thursday, May 26, 2011

*Seindah Pesona Fajar*

Secerah suasana alam raya kala fajar menyatu...
Cahaya kemilau memancar ke segala penjuru...
Kehangatannya menyapu jagat raya...
Alam tersenyum sambut datangnya pesona...

Gurat kebahagiaan terpancar di sana...
Pesona keindahan wajah santun merona...
Manyapa indahnya salam surgawi...
Merambah jiwa yang sempat di landa sepi...

Bersama terbitnya mentari pagi terjelang...
Senyum manismu kembali membayang...
Menggoda manja beruluk salam...
Seraya menyentuh samudera tersulam...

Lembut berdesir mengalun mesra...
Diantara kilauan benang emas sang surya...
Dalam balutan kehangatan cahaya mentari...
Menggugah jiwa merajut asa dan cita di hati....

Dalam buaian kasih Illahi...
Menuntun kita menuju suatu negeri...
Yang indah bertabur pesona...
Megah tiada tara...

Di sana... kita kan bersama...
Bergandengan merajut hari indah bahagia...
Bertabur dzikir dan do'a ...
Yang kan mengantar kita meraih cita...

Bersamamu... ku kan berdo'a...
Segalanya sesuai rencana...
Dan semoga Allah Yang Esa...
Meridhoi setiap langkah kita...

_________InsyaAllah_______

*In Memoriam*


Senja tlah berlalu
Saatnya ku menjengukmu
Memanjakanmu
Dan memandikanmu

Ku buka teralis jendela
Seraya melirikmu di sana
Bertiga kau nikmati senja
Lalui hari indah bersama

Ada yang aneh di sana
Keruhnya air nampak berbeda
Keanehan makin terasa
Gerakmu lenyap adanya

Sungguh tiada ku duga
Kau tlah pergi tuk selamanya
Mengenaskan kau binasa
Menjadi santapan dua saudara

Bertahun-tahun kau bersama
Nikmati indahnya dunia fana
Namun kini tulang yang tersisa
Dagingmu habis di telannya

Mereka adalah saudara
Teganya memangsa
Dirimu yang masih belia
Yang kecil tiada berdaya...

HK, 26 May 2011
(senja ini, kura-kura ku mati satu, di santap habis oleh kura-kura yg lebih besar)

*Try To Remember*


Try to remember the way
That we had walk together
Try to remember that song's
That we singing together

It's about our old memories
When you and me
Still together in one way
To reach our special thing's...

How beautifull that day
When your smile looks so sweet
How great that moment
When your laughing was so free

Looks that world was so kinds
Smiling at me with new random fligh
Full of colours was stay there
Cathing by my eyes

Oh... how great this life
When we know
The rules of life
It seem to be bright

Such as that garden
Our heart should be
Fully smiled with joys and laugh
No more sadness thing will be...

HK, 26 may 2011

Wednesday, May 25, 2011

*Sesejuk Embun Surga*

Semalam... padamu ku bercerita
Tentang kisah si gadis jelita
Arungi alur naskah Sang Sutradara
Merambah rimbunnya rimba raya

Padamu... tlah ku ungkapkan
Segala gundah yang melaga
Di sekujur jiwa nestapa
Dan riuhnya jeritan sukma

Darimu... ketenangan bertahta
Baluri resahnya jiwa
Bagai kesejukan embun surga
Meresap menggugah asa

Ingatlah setiap kata
Yang ku tata merapat cahaya
Kala butir-butir mutiara
Basahi pipi merah merona

Dan kau... bijak berkata
Ungkapkan keteduhan jiwa
Hadirkan kesegaran rasa
Di semenanjung selatan sukma

Lihatlah dengan seksama
Kala netramu sentuh bayang adinda
Tiada duka menerpa di sana
Tawa ceria terukir tiada jeda...

HK, 26 may 2011

--> Takut Ketemu Harimau <--

Senja mulai menyapa malam, aku tetap duduk manis pada tempatku sambil menatap aktivitas teman-teman di sekelilingku. Semua nampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal pendakian malam itu. Para senior mulai menanyakan persiapan masing-masing pendaki yang tergolong masih pemula. Termasuk diriku. "Non, jaketmu mana?" tanya seorang senior padaku. "Ini yang ku pakai" Kataku sambil menarik helai kain jaketku. Sementara kakak senior nampak tercengang. "Hah...!!! Lo mau kondangan apa mau naik gunung...? yang bener aja, masa naik gunung pakai jaket tipis gini, lo mau mati kedinginan...?" Kata si senior sambil menahan tawa di susul lirikan dan senyum hampir semua pendaki yang ada di situ.


Aduh... jadi malu aku. Tapi aku cuma tersenyum aja mendengarnya. Sementara Ibu pembina mendekatiku sambil menyerahkan jaket yang di pakainya. "Neh, kamu pakai ini, di atas tuh dingin, nanti kamu kedinginan" Katanya sambil menahan senyum. "Waduh bu..., gimana dengan ibu...? ibu pakai apa...?" Tanyaku heran. "Tenang nanti ibu cuma di Post 1 kok, ibu gak ikut naik kok" Katanya menyakinkanku. Akupun segera menerima jaketnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada beliau.

Sesaat kemudian rombongan pendaki mulai bergerak melangkah menyusuri jalan setapak kaki gunung Slamet. Sesuai dengan anjuran senior, semua pendaki saling bergandengan tangan. Awal pendakian semua masih penuh semangat, masih segar, langkahpun serempak mantap dan kompak. Semakin tinggi mendaki, semakin sulit medan di daki, pertahanan fisik para penndaki pun tak lagi seimbang. Tangan yang semula saling erat bergandengan, kini satu persatu mulai terlepas. Para pendaki yang semula berjalan rapi seperti barisan ular kini telah tercerai-berai membentuk beberapa kelompok. Aku termasuk dalam kelompok yang melangkah paling depan.

Aku mencoba mengatur nafasku yang sudah sejak tadi mulai tersendat-sendat. Aku meminta teman-teman tuk berhenti sejenak. Begitulah, jika ada satu pendaki dalam kelompok itu kehabisan tenaga maka kelompok itupun segera berhenti tuk istirahat sebentar. Ini berlangsung terus-menerus sepanjang pendakian malam itu. Kebersamaan terasa begitu indah. Di sinilah kita bisa tahu karakteristik asli seseorang. Ketika kita hidup di alam bebas, ketika air dan bahan makanan susah di dapat, ketika lelah dan haus datang menghampiri, sementara kita harus berbagi. Kebersamaan dan kesetiakawanan sangat di butuhkan.

Malam terus beranjak, langkah kaki mulai terseok-seok, namun semangat tuk mencapai puncak tak jua surut. Desir angin malam lembut terasa. Dalam iringan gemerisik dedauanan dan derap kaki yang menginjak ranting-ranting kering yang berserakan. Kakak-kakak senior nampak terus memberi semangat. Tak terasa malam beranjak pergi, langit yang semula gelap perlahan-lahan sedikit terang. Ternyata waktu telah menunjukkan jam tiga lewat waktu setempat. Tiba-tiba kawan-kawan yang satu rombongan denganku berteriak girang. "Sedikit lagi sampai puncak, ayok percepat langkah kita, kita harus sampai di puncak sebelum matahari terbit." kata salah seorang senior.

Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, semua bergegas tuk mendaki jalan yang sudah gak beraturan itu. Jalan yang di penuhi dengan akar-akar pohon yang malang melintang. Terkadang harus melompati akar-akar itu, terkadang harus merunduk lewat di bawah akar-akar itu. Semua nampak begitu semangat. Rombongan yang rata-rata teman-teman cowok itupun terus mempercepat langkahnya. Dan apa yang terjadi...? Aku tertinggal jauh di belakang. Aku mencoba teriak memanggil, namun nampaknya sia-sia, mereka tak mendengar teriakanku. Karena sudah terlalu jauh. punggung merekapun tak kelihatan. Suara langkah kaki merekapun telah lenyap.

Tinggallah aku sendiri, melangkah dengan sisa-sisa tenagaku. Aku terus melangkah sendirian menapaki jalan di depanku tanpa alat penerang sedikitpun. Namun mataku masih bisa melihat jalan yang ada di depanku dalam keremangan malam itu. Bayangan ketakutan mulai menghampiriku. Bukan hantu yang aku takutkan, tapi... bagaimana kalau aku ketemu harimau...? bagaimana kalau aku di cabik-cabik harimau...? Team SAR pasti tak kan menemukanku... Yaa Allah... lindungilah hamba-Mu yang lemah ini...

Tak henti-hentinya aku berdo'a memohon keselamat, hingga akhirnya nafasku seolah berhenti saat ku dengar suara langkah kaki jauh dari belakangku. Langkah itu begitu cepat makin lama makin jelas. Namun tidak terdengar suara obrolan. Hatiku semakin was-was, jantungku berdetak makin cepat. Dalam kepasrahan ku tetap mencoba dan berusaha tuk mempercepat langkahku. Dan tiba-tiba... "Mbak, sendirian aja...?" Lega hatiku mendengar suara itu...

"Iya." jawabku singkat. "Yang lain dah di depan dan sebagian masih di belakang." Kataku melanjutkan. Mereka ternyata 4 orang pendaki dari Bogor, cowok semua. "Kami jalan dulu ya mbak..." kata salah seorang dari mereka. "Iya, silahkan" kataku sedikit berat. Akupun sedikit minggir tuk memberi jalan pada mereka. Satu persatu mereka mulai meninggalkanku dan dengan cepat melompati tanjakan yang ada di depannya. Tanjakan itu emang cukup tinggi sebatas dadaku. Dalam keadaan normal tentu saja aku bisa melompatinya, namun saat itu... tenagaku benar-benar habis...

Baru saja aku ingin teriak minta tolong, salah satu dari pendaki itu membalikkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya. Segera ku raih tangannya, dan dengan cepat dia menarikku. "Makasih, mas" kataku singkat. Dia pun tersenyum "Sama-sama mbak, maaf kami jalan dulu, mau lihat sunrise." Katanya sambil berlalu meninggalkanku sendirian lagi. Tapi kali ini aku sudah sedikit lega, ketakutanku agak hilang, walau dikit-dikit masih dag dig dug kalau-kalau ketemu harimau or macan or singa. hiiii... apa jadinya...

Langit nampaknya udah makin terang walau masih di balut keremangan malam. Samar terdengar suara ramai temen-temen yang bersorak kegirangan karena telah sampai di puncak. Hatiku makin tenang, suara-suara itu makin jelas terdengar. Ku percepat langkah kakiku... akhirnya.... sampai juga... aku menginjakkan kaki di puncak gunung Slamet. Ku lihat ke sekeliling... ternyata hampir tidak ada pepohonan. Teman-teman terlihat memainkan kameranya tuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi itu.

Akupun turut menikmati keindahan pagi itu. Salah satu senior berteriak. "Hey lihat, itu puncak gunung Sindoro Sumbing. Sudah pernah kesana belum?" Tanyanya kepadaku. "Belum. Dan gak akan pernah ke sana" kataku menahan jengkel. "Lho kenapa...?" tanyanya heran. "Naik gunung apaan, aku tadi kok di tinggal sendirian...? kalau aku ketemu macan gimana...?" Kataku dengan sedikit mendelik. Eh dia malah ketawa. "Hahaha...kamu kan galak abis. Macannya pasti takutlah ama kamu. Buktinya gak ada macan yang nemuin kamu kan?" katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Sementara aku masih cemberut menahan rasa jengkelku. Saat itulah rombongan berikutnya mulai bermunculan meramaikan suasana pagi itu. Aku mulai menaiki bebatuan yang gersang tanpa tumbuhan. "Non berhenti, jangan tinggi2, tar kamu di terbangin angin."  kata salah seorang alumni yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Diapun menyusulku dan duduk di sebelahku. Rambutnya yang panjang berantakan dimainkan angin yang bertiup cukup kencang. "Kang, sini rambutnya tak rapiin" kataku sambil melangkah dan duduk di belakangnya.

Kedua tanganku mulai membagi rambutnya menjadi dua bagian, lalu ku ikat dengan menggunakan syal hijau miliknya. Teman-teman yang melihat spontan tertawa melihat cowok gondrong di pita dua. Langsung aja salah satu dari mereka mengabadikan moment itu dengan kameranya.

Waktunya kembali ke basecamp di post satu. Semua beranjak meninggalkan puncak gunung Slamet. Semua nampak bahagia, semua bernyanyi penuh ceria. Sementara aku menikmati suasana hatiku sendiri. Kini giliranku meninggalkan teman-temanku. Dengan cepat aku melangkah turun. Aku berlari di antara jalan setapak, dan aku duduk meluncur di atas rumput yang tumbuh menurun. Dua orang senior tersengal-sengal mengejarku, menyuruhku berhenti dan memperlambat langkahku. Namun aku tidak peduli aku terus meluncur layaknya anak kecil yang sedang bermain di playground.

Setelah semua sampai di basecamp kedua senior itupun menghampiriku "Wuaduh non, kamu tuh, mentang-mentang kecil main pelorotan mulu. Kalau kamu jatuh ke jurang gimana...?" tanyanya padaku. Dengan santai ku jawab "Buktinya gak jatuh kan...? suruh siapa semalam ninggalin aku sendirian?"

Akhirnya semua ketawa... "ooo.... ngambek neh ceritanya, makanya main pelorotan...?" Sambil gemes mengobrak-abrik rambutku.

*** ^_^ **

*Jejak Langkah Bidadari*

Lembut ayunan langkah bidadari
Menapaki hari demi hari
Kharisma wajahnya kian berseri
Senyumnya manis memikat hati

Lemah gemulai lentik jemari
Menarikan tarian sanubari
Tertelan kedahsyatan surgawi
Demi menggapai ridho Illahi

Pusaka mustika hati
Bersinar memagut nadi
Melemah petir menghampiri
Ulurkan kesyahduan nan abadi

Kilau permata biru indah berseri
Bias cahayanya menembus hati
Hingga jauh ke sisi dinding sanubari
Mengambang diantara ruang sunyi

Takdirnya kian menjadi
Tentukan lingkaran jalan bakti
Berdesakan mengukir mimpi
Yang terukir jauh di lubuk hati

Jejak langkah bidadari
Telusuri rimba melati
Pada alunan syahdu para sufi
Demi menggapai cinta nan suci...

Tuesday, May 24, 2011

*Alam Biru Merajut Rindu*

Alam biru merajut rindu
Memintal sunyi mencipta lagu
Alam biru menuai rindu
Merangkai syair bernada sendu

Selasih awan selasih bisu
Mengukir alunan mutiara ungu
Berdesak nafas memburu
Kala waktu habis jadi penentu

Bersatu merejam sendu
Dalam jelaga bertandang meragu
Sukma mahligai perindu
Menantang terpaan dahsyatnya bayu

Gemuruh getaran nan sendu
Menghujam raga pemandu
Menghantarkan hangatnya pilu
Menuju buaian nan syahdu

Alam biru tetap berseru
Berteriak memanggil rindu
Diantara riuh gemuruh yang bertalu
Dan ribuan kawanan pemburu rindu

Alam biru...
Indahmu kan tetap menjamu
Sorot pancaran netraku
Sebagai pengupas segala rindu...

HK, 25 Mei 2011

*Kelembutan kasih biru*


Duhai kekasihku...
Selembut mungkin kan ku belai jiwamu
Kan ku bawa kau tuk arungi samudera biru
Memindai syahdunya buaian rindu

Bersamamu ku kan melaju
Telusuri lembah terjal berbatu
Tiada lagi gundah mendera batinku
Saat jiwamu dan jiwaku khusyuk menyatu

Kelembutan kasih biru
Kan ku hadirkan selalu
Berbahagialah duhai sayangku
Percayalah akan segala niatan suciku

Kan ku hadirkan kembali syahdu cintaku
Kan ku ayunkan kembali merdunya asmara qolbu
Kan ku hapus sgala keresahan di jiwamu
Hingga musnahlah gumpalan pilu

Sayang...
Seluas hamparan langit yang membentang
Salam santunku padamu kan tertuang
Terciptalah kesejukan baluti jiwa nan gersang

Kelembutan kasih biru
Selembut kasih seorang ibu
Hanya untukmu duhai kekasih hatiku
Percayalah.. akan kelembutan kasih biru...

-----> HK, 6 April 201

Sunday, May 22, 2011

--> Jeritan Histeris Tengah Malam <--

Mini bus yang membawaku dan rombongan teman-teman akhirnya sampai juga pada tempat tujuan, yaitu Pantai Ayah. Teman-teman segera berhamburan keluar dari mini bus yang kami tumpangi dari depan sekolahku tadi. Setelah itu kami pun segera mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda. Sesuai dengan kesepakatan bersama akhirnya kami mendirikan tenda di dekat selokan kecil berukuran lebar sekitar 50 cm.. Namun selokan ini mengalirkan air yang cukup jernih yang bisa digunakan untuk mencuci atau untuk dimasak sebagai air minum.


Hari ini adalah untuk pertama kalinya aku ikut camping di pantai. Teman-teman nampak sibuk mendirikan tenda. Camping kali ini adalah camping gabungan bersama SMA-SMA se-kabupaten Banyumas. Tujuan camping kali ini tidak hanya sekedar untuk refreshing, tapi karena kami semua ingin mencoba mendaki tebing karang yang konon kabarnya ada di sekitar bukit dekat pantai tempat kami mendirikan tenda.

Aku sibuk membongkar cariel yang berisi berbagai bekal dan peralatan. Setelah semua tenda selesai didirikan, satu persatu teman-teman mulai berhamburan ke arah pantai. Hingga akhirnya tinggallah aku sendiri. Duh... nasib... lagi-lagi aku harus sendirian menjaga sekian banyak tenda.

Setelah hari mulai gelap semua kembali ke camp. Ada yang basah kuyup dan kotor penuh pasir. Ada juga yang membawa ikan dari nelayan setempat. Ikan-ikan itu pun diserahkan padaku setelah dibersihkan sebelumnya. Akhirnya ikan-ikan itu pun aku masak dengan wajan kecilku yang kubawa dari rumah.

"Waduh Non, sempet-sempetnya bawa wajan. Gak rugi deh camping ngajak kamu." Kata salah seorang seniorku.

"Ya iyalah..." kataku singkat sambil menyiapkan segala sesuatunya.

"Apa ini... !" Teriak salah seorang kawan dari dalam tenda yang tepat di belakangku. Aku segera menoleh dan menyorotkan lampu senter ke arah yang dimaksud. Ternyata susu bendera kalengan yang tumpah di atas terpal.

"Waduh siapa sih yang naruh susu di sini, sayang banget neh, gimana neh...?" katanya sambil memandang ke arahku. Tanpa pikir panjang aku segera memindahkan tumpahan susu bendera itu ke wajan yang berisi ikan laut. Kawanku hanya bisa melongo melihat ulahku. Sementara aku hanya nyengir sambil mengisyaratkan padanya untuk diam. Dia pun hanya mengangguk sambil bergidik jijik.

Gak berapa lama kemudian ikan yang kumasak pun matang dengan wangi yang menggoda. Segera aku bagikan kepada teman-teman yang dari tadi sudah menunggu menu makan malam. Dengan cepat mereka menyantap.

"Wah... uenak banget, kok kamu pinter masaknya? bumbunya apa neh?" Tanya salah seorang seniorku.

"Masa enak sih? habiskan dulu, nanti tak kasih tau deh resepnya" Kataku dengan senyum pasti. Dengan cepat hidangan ikan laut pun habis disantap teman-teman.

"Masih ada lagi gak ikannya? aku belum kebagian neh?" Kata salah seorang kawan yang baru datang menikmati indahnya suasana malam di pantai.

"Udah habis. Suruh siapa gak balik-balik, gak tau orang pada kerepotan di sini." Kataku dengan santainya.

"Non, apa resepnya neh?" tanya salah seorang dari mereka.

"Biasa aja kok. Cuma ada tambahan dikit, itu tuh tumpahan susu bendera di terpal itu." Kataku sambil menahan tawa.

"Iya bener tuh, susu bendera yang tumpah tadi dia ciduk pake sendok lalu dimasukkan ke dalam wajan yang buat masak ikan." kata kawanku yang pertama kali menjerit tadi. Akhirnya semua ketawa, lalu kata mereka.

"Gak apa-apa, vitamin." ^_^

Setelah semua selesai akhirnya aku dan teman-temanku segera membersihkan peralatan masak dan peralatan makan tadi. Malam terus beranjak mengukir gelap di antara deburan ombak di pantai. Malam ini memang tidak ada acara khusus. Malam ini semua diminta untuk istirahat penuh karena besok pagi kami akan diajak untuk mendaki tebing karang yang dimaksud. Ada yang menikmati malam itu dengan jalan-jalan di pantai bersama kekasih hatinya, ada yang hanya duduk-duduk di kursi bambu yang telah tersedia di bawah pohon waru. Ada juga yang hanya duduk di dalam tenda sambil bermain kartu poker.

Sementara aku hanya duduk-duduk di pinggir selokan bersama seniorku, mbak Pipit yang sedang asyik ngobrol dengan seorang kawannya dari Cilacap. Mereka asyik diskusi masalah seputar pengalaman camping bersama teman-teman. Sesekali aku tersenyum sebagai respon aku ikut mendengarkan obrolan mereka. Sementara itu aku asyik memainkan lilin-lilin kecil yang menjadi penerang kami saat itu. Kedua kakiku kumasukkan ke dalam selokan yang mengalirkan air jernih itu. Aku asyik menikmati aliran airnya yang bening. Sambil sesekali mendekatkan lilin ke dalam selokan, mencoba menangkap ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari.

Malam kian larut, entah kenapa kurasakan kejenuhan yang tidak seperti biasanya. Tiba-tiba aku ingin menjerit. Akupun menyampaikan maksudku pada mbak Pipit.

"Mbak, aku ingin menjerit sepuas-puasnya."

Dengan santai dan terus menatapku dia pun berkata, "Ya sudah menjeritlah." Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun segera menjerit.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaa........" Sebuah jeritan panjangku yang membuat kaget seketika.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa......" Jeritan panjang susulan dilanjut dengan jerit tangisku.

Seketika itu juga, semua penghuni tenda berhamburan keluar mencari datangnya suara. Semua mendekat ke arahku, dan bertanya kepada mbak Pipit yang tenang-tenang saja duduk di sebelahku. Mbak Pipit pun menjawab kebingungan teman-teman,

"Tidak ada apa-apa, dia cuma pengen njerit aja." Akhirnya semua mengerti dan kembali ke tenda masing-masing.

Sementara itu aku puas-puasin menangis, hingga hatiku tenang kembali. Setelah itu aku segera membasuh wajahku yang berlumuran air mata dengan kesejukan air selokan di malam itu. Lega rasanya dan lapar ^_^

Tenagaku habis buat menjerit dan nangis histeris, hingga membuat perutku terasa lapar. Akhirnya aku pun hanya makan indomie goreng yang kuremas lalu kucampur bumbunya dan makan begitu saja. Maklum, malas masak. ^_^

Malam kian larut dan dingin, kami pun kembali ke tenda untuk istirahat barang sejenak. Temannya mbak Pipit pun segera pulang ke rumahnya yang kabarnya tak jauh dari pantai Ayah ini. ternyata teman-teman di dalam tenda posisi tidurnya seperti udang diaduk dalam penggorengan, amburadul. Tidak ada posisi yang benar. Mau tidak mau harus nyelip di pinggiran.

Keesokan paginya setelah semua membersihkan diri, kami segera berjalan meninggalkan camp dan menuju tebing karang yang dimaksud. Pak Lippo selaku pelatih olah raga alam bebas ini tiba-tiba telah merangkul pundakku dan bertanya menyelidik.

"Kamu kenapa? kok njerit histeris gitu? Apa ada masalah?" Tanyanya serius. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum, dan meyakinkan bahwa tidak ada masalah apapun.

Lalu beliau menepuk-nepuk pundakku, dan katanya, "Ya sudah kalau gak ada masalah, berarti siap dunk latihan hari ini?" Tanyanya sambil tersenyum.

"Siap dunk...pak..." jawabku pasti.

Setelah itu Pak Lippo asyik ngobrol dengan rekannya yang juga ahli di bidang Rock Climbing. Dan kami pun mulai meniti jalan di perbukitan yang menuju ke arah tebing karang. Nampaknya lokasi yang di maksud cukup jauh juga, kami harus melewati perbukitan yang sedikit terjal dan berliku. Beruntung ada kawan yang membawa radio kecil. Sebuah lagu gubahan pun melantun di antara tawa dan canda teman-teman.

Akhirnya kami semua sampai di lokasi tebing karang. Para senior yang bertugas segera menyiapkan segala peralatan. Mulai dari tali karmentel, karabinner, discender, tali prusik, dan webbing. Dua pemanjat nampak membuat tali simpul di puncak tebing karang. Sementara aku dan beberapa teman memasang webbing di badan masing-masing. Untuk permulaan, seorang anak muda yang pernah ikut kejuaraan nasional menunjukkan kebolehannya dalam tehnik memanjat tebing. Kami memperhatikan dengan seksama. Kemudian satu persatu pun mulai mencoba memanjat tebing karang itu.

Tak terasa waktu cepat berlalu, saatnya untuk kembali ke camp di pinggir pantai. Semua tampak happy dan bernyanyi riang menyusuri jalan di perbukitan yang akhirnya mengantar kami ke perkemahan.

*** Memory Di Pantai Ayah bersama para pecinta alam se kab-BMS

*Legenda Bunga Bangsa Di negeri Sufi*


Selaksa makna yang melegenda
Menjadi acuan para sufi muda
Mencermati gelombang kisah nyata
Di antara jerit tangis yang kian membahana...

Jiwa-jiwa ksatria kian berlomba
Di antara ribuan domba-domba
Telusuri padang rumput di hutan rimba
Berharap mendapatkan mutiara yang lama di damba...

Kabut makin tebal samarkan pandangan
Jerit tangis sehening pegunungan
Tak gentar semangat terus berkobaran
Saat keadilan menjadi santapan kemurkaan...

Binar indah mata kian terpancar
Saat bibir berucap "Allahu Akbar..."
Tumbanglah sudah gedung pencakar
Bunga di taman pun kembali mekar...

Gemuruh di belahan bumi barat telah mereda
Bunga "putri malu" kembali tersenyum manja
Burung camarpun kembali ke suraunya
Tuk menimba ilmu agama...

Langit di negeri para sufi terlihat lebih cerah
Pertanda dunia di sekitarnya penuh berkah
Kemurkaan nampaknya telah punah
Tawa bunga bangsa kembali merekah...

Di sini... di negeri bambu ini
Untaian doa akan selalu mengiringi
Tuk bunga bangsa di negeri sufi
Selalu dalam lindungan Illahi
Robbi...

(Terinspirasi evakuasi Masisir Februari 2011)

Friday, May 20, 2011

--> Uang Logam ikutan Demo <--


Sebuah batu yang di ikat pada ujung tali rafia sepanjang kurang lebih 30 meteran, di lemparkan ke atas puncak Aula yang mencapai tinggi sekitar 25 meter. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan karena meleset, akhirnya batu itu pun bisa melompati besi terdekat dengan puncak Aula. Pelan-pelan batu itupun di turunkan kemudian di tariklah tali rafia yang bagian ujung lainnya telah di ikatkan dengan tali karmentel yang panjangnya kurang lebih mencapai 50 meteran. Salah seorang senior yang lebih ahli di bidang ini pun segera mengikatkat ujung tali karmentel yang telah berhasil dikaitkan dengan besi di puncak menara. Ujung yang satu segera di ikatkan di pilar penyangga Aula itu. Sementara seorang teman yang telah lengkap memakai webbing di badannya segera memasang dua buah tali prusik pada tali karmentel yang menggantung itu.

Setelah alat yang di butuhkan semua di siapkan, mulailah dia memanjat menara melalui tali karmentel itu. Beberapa saat kemudian sampailah ia di atas besi pada ketinggian kurang lebih 25 meter itu. Dia pun mulai melaksanakan tugasnya, yaitu mengikat tali karmentel sedemikian rupa pada besi di atas sana. Hingga ujung tali karmentel yang di ikatkan di pilar penyangga itupun di lepaskan. Hasilnya kini dua tali menggantung di siapkan untuk pemanjat lainnya.

Yah, hari itu adalah saatnya kami untuk melakukan demonstrasi ORAB (Olah Raga Alam Bebas) tentang pecinta alam dan kegiatan pemanjatan. Tahun ajaran baru siswa siswi SMA YOS SUDARSO Sokaraja 1996/1997. Semua nampak sibuk, organisasi pecinta alam YODAPALA siap mendemonstrasikan pemanjatan ke puncak aula. Sesaat kemudian seluruh siswa-siswi kelas 1 telah datang memenuhi aula. Aku bersama teman2ku menyiapkan diri dengan memasang webbing yg panjangnya sekitar 3 meteran pada diri masing-masing. Sementara seksi ORAB mulai memperkenalkan berbagai jenis peralatan dan kekuatan masing-masing dari peralatan tersebut.

Saatnya tiba, aku dan temanku di panggil untuk memperagakan pemanjatan. Dengan sedikit grogi akupun mulai melangkah dan mulailah aku menggantung di tali karmentel itu. Badan kecilku bergelantungan di tali karmentel, sementara ratusan mata memandang ke arahku... dag dig dug... rasanya jantungku...
Namun aku coba menetralisir suasana hatiku untuk tetap tenang. Tugasku saat itu adalah memperagakan diri untuk menggantung dengan melepaskan kaki dari pijakan tali prusik dan kedua tangpun tidak berpegangan pada tali karmentel.

Yah, saatnya tiba... pada ketinggian sekitar 20 meter aku pun mulai melepaskan kakiku dari pijakanku dan melepaskan peganganku, sehingga hanya tali webbing di perutku yang masih menggantung pada tali prusik. Tanpa pikir panjang, ku jatuhkan badanku kebelakang hingga membentuk posisi kayang di awang-awang, yah... posisi kayang di atas ketinggian 20 meter. Saat itulah sesuatu yang terduga terjadi, sesuatu di luar rencana terjadi dengan tiba-tiba dan sangat mengejutkanku.

Pada saat yang sama tiba-tiba 3 uang logam Rp.100,- dalam saku bajuku terjun ke lantai Aula. Semua bersorak begitu ramai. Sementara di atas sana aku lihat salah seorang rekanku memunguti uang logam yang baru saja meluncur dari saku bajuku. Aduh... malunya... kenapa pas jadi pusat perhatian eh tuh uang logam ikut-ikutan meluncur... bikin suasana Aula tambah ramai. Ku lihat bapak dan ibu gurupun pada ketawa semua...  ^_^

Dengan menahan rasa gak karuan akhirnya ku kembali pada posisi semula dan melanjutkan pemanjatan untuk mencapai puncak Aula. Akhirnya sampai juga, salah seorang kawanku sgera menyambutku dan membantuku untuk duduk di atas besi yang memanjang di puncak Aula.

Beberapa saat kemudian adegan untuk meluncur turun. Kawanku meluncur dengan kepala di bawah, sementara aku meluncur dengan posisi duduk menggantung. Kami meluncur melalui tali karmentel yang tadi kami gunakan untuk memanjat. Siswa-siswi kelas satu nampak serius memperhatikan, sehingga terkesan tegang. Namun setelah kami sampai pada dasar Aula, tepuk tanganpun kembali ramai terdengar.

Aku segera berlari ke arah teman-teman di balik dinding, sambil menahan malu gara-gara uang logam yang jatuh tadi. Sementara itu teman-temanku masih pada senyum-senyum sambil menggodaku "Recehnya ikut atraksi juga non..." Duh... malunya...
Akhirnya saat itu juga aku ingat kalau uang logam itu adalah uang kembalian saat beli es tadi.

Sebuah batu yang di ikat pada ujung tali rafia sepanjang kurang lebih 30 meteran, di lemparkan ke atas puncak Aula yang mencapai tinggi sekitar 25 meter. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan karena meleset, akhirnya batu itu pun bisa melompati besi terdekat dengan puncak Aula. Pelan-pelan batu itupun di turunkan kemudian di tariklah tali rafia yang bagian ujung lainnya telah di ikatkan dengan tali karmentel yang panjangnya kurang lebih mencapai 50 meteran. Salah seorang senior yang lebih ahli di bidang ini pun segera mengikatkat ujung tali karmentel yang telah berhasil dikaitkan dengan besi di puncak menara. Ujung yang satu segera di ikatkan di pilar penyangga Aula itu. Sementara seorang teman yang telah lengkap memakai webbing di badannya segera memasang dua buah tali prusik pada tali karmentel yang menggantung itu.

Setelah alat yang di butuhkan semua di siapkan, mulailah dia memanjat menara melalui tali karmentel itu. Beberapa saat kemudian sampailah ia di atas besi pada ketinggian kurang lebih 25 meter itu. Dia pun mulai melaksanakan tugasnya, yaitu mengikat tali karmentel sedemikian rupa pada besi di atas sana. Hingga ujung tali karmentel yang di ikatkan di pilar penyangga itupun di lepaskan. Hasilnya kini dua tali menggantung di siapkan untuk pemanjat lainnya.

Yah, hari itu adalah saatnya kami untuk melakukan demonstrasi ORAB (Olah Raga Alam Bebas) tentang pecinta alam dan kegiatan pemanjatan. Tahun ajaran baru siswa siswi SMA YOS SUDARSO Sokaraja 1996/1997. Semua nampak sibuk, organisasi pecinta alam YODAPALA siap mendemonstrasikan pemanjatan ke puncak aula. Sesaat kemudian seluruh siswa-siswi kelas 1 telah datang memenuhi aula. Aku bersama teman2ku menyiapkan diri dengan memasang webbing yg panjangnya sekitar 3 meteran pada diri masing-masing. Sementara seksi ORAB mulai memperkenalkan berbagai jenis peralatan dan kekuatan masing-masing dari peralatan tersebut.

Saatnya tiba, aku dan temanku di panggil untuk memperagakan pemanjatan. Dengan sedikit grogi akupun mulai melangkah dan mulailah aku menggantung di tali karmentel itu. Badan kecilku bergelantungan di tali karmentel, sementara ratusan mata memandang ke arahku... dag dig dug... rasanya jantungku...
Namun aku coba menetralisir suasana hatiku untuk tetap tenang. Tugasku saat itu adalah memperagakan diri untuk menggantung dengan melepaskan kaki dari pijakan tali prusik dan kedua tangpun tidak berpegangan pada tali karmentel.

Yah, saatnya tiba... pada ketinggian sekitar 20 meter aku pun mulai melepaskan kakiku dari pijakanku dan melepaskan peganganku, sehingga hanya tali webbing di perutku yang masih menggantung pada tali prusik. Tanpa pikir panjang, ku jatuhkan badanku kebelakang hingga membentuk posisi kayang di awang-awang, yah... posisi kayang di atas ketinggian 20 meter. Saat itulah sesuatu yang terduga terjadi, sesuatu di luar rencana terjadi dengan tiba-tiba dan sangat mengejutkanku.

Pada saat yang sama tiba-tiba 3 uang logam Rp.100,- dalam saku bajuku terjun ke lantai Aula. Semua bersorak begitu ramai. Sementara di atas sana aku lihat salah seorang rekanku memunguti uang logam yang baru saja meluncur dari saku bajuku. Aduh... malunya... kenapa pas jadi pusat perhatian eh tuh uang logam ikut-ikutan meluncur... bikin suasana Aula tambah ramai. Ku lihat bapak dan ibu gurupun pada ketawa semua...  ^_^

Dengan menahan rasa gak karuan akhirnya ku kembali pada posisi semula dan melanjutkan pemanjatan untuk mencapai puncak Aula. Akhirnya sampai juga, salah seorang kawanku sgera menyambutku dan membantuku untuk duduk di atas besi yang memanjang di puncak Aula.

Beberapa saat kemudian adegan untuk meluncur turun. Kawanku meluncur dengan kepala di bawah, sementara aku meluncur dengan posisi duduk menggantung. Kami meluncur melalui tali karmentel yang tadi kami gunakan untuk memanjat. Siswa-siswi kelas satu nampak serius memperhatikan, sehingga terkesan tegang. Namun setelah kami sampai pada dasar Aula, tepuk tanganpun kembali ramai terdengar.

Aku segera berlari ke arah teman-teman di balik dinding, sambil menahan malu gara-gara uang logam yang jatuh tadi. Sementara itu teman-temanku masih pada senyum-senyum sambil menggodaku "Recehnya ikut atraksi juga non..." Duh... malunya...

Akhirnya saat itu juga aku ingat kalau uang logam itu adalah uang kembalian saat beli es tadi.

Thursday, May 19, 2011

*Indahnya Karya Cipta*


Desir angin lembut menyapa
Membelai mesra wajah telaga
Sampaikan salam dari surga
Untuk seisi dunia fana

Gemuruh air terjun
Riuh mengalun
Percikan sejuknya tersusun
Meresap ke ubun-ubun

Liku aliran air telaga
Seindah fitur dasar telaga
Berbatu indah tertata
Alami mesra tercipta

Bening airnya jernihkan rasa
Tiada lelah kedua mata
Nikmati keindahan panorama
Yang terhampar di sekitar telaga

Sungguh indah tiada terkira
Tak cukup untaian kata-kata
Tuk lukiskan keindahan karya
Karya cipta Allah Yang Esa...

*Happy Milad Sahabatku*

Alam indah berseri
Teriring sorot mentari
Hangat menyinari
Seisi hamparan bumi

Dahan-dahan pepohonan
Bergoyang bermesraan
Melenggangkan tarian
Penuh kesyahduan

Riuh cericit burung nuri
Semarakan indahnya pagi
Kala kehangatan sinar mentari
Ramah menyelimuti

Alam nampak ceria
Nirwana turut bahagia
Akan indahnya karunia
Dari Penguasa dunia

Lihatlah cerahnya alam raya
Menyambut hari istimewa
Hari indah bertabur pesona
Kala senyummu kian merona

Semoga bahagia selimuti batinmu
Keberkahan slalu bersamamu
Kesuksesan di tiap langkahmu
Happy Milad duhai sahabatku....

*Seindah Tarian Kupu-kupu*


Seindah tarian kupu-kupu
Kau gerakan lentik jemarimu
Seiring irama senja meraya
Berirama taburkan pesona

Seindah tarian kupu-kupu
Gemulai gerakanmu
Ikuti irama angin senja
Berdesir membelai mayapada

Seindah tarian kupu-kupu
Manis senyummu berirama syahdu
Selaras sapa mentari senja
Di ujung nirwana nan merona

Seindah tarian kupu-kupu
Anggun wajahmu berbalut rindu
Bagai malam rindukan purnama
Dan bisikan lembut bintang kejora

Seindah tarian kupu-kupu
Alur fikirmu mantap tertuju
Pada bahtera penampung rasa
Di semenanjung sukma persada

Wednesday, May 18, 2011

--> Demi Sebuah Amanah <--

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk pikuk terminal pulo gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua. Aku sudah mulai gelisah dan bosan dengan suasana bising di sekitarku, terbersit dalam anganku untuk menembus keramaian itu lalu mencari tempat mangkal bus antar kota seperti sinar jaya misalnya. Namun belum sempat aku melangkahkan kaki, saat itulah datang seorang bapak yang nampaknya juga hendak menunggu bus antar kota. Sekilas bapak setengah baya itu nampak ramah menegurku dan bertanya kemana tujuanku. Percakapanpun mengalir begitu saja, tak pernah terbesit di otakku menaruh curiga kepada beliau. Beberapa saat kemudian Bapak setengah baya itupun memberikan saran untuk naik minibus dan turun di dekat pangkalan bus sinar jaya.

Tanpa rasa curiga akupun menuruti saran bapak setengah baya itu. Bapak setengah baya itupun nampak sibuk melambai-lambaikan tangan pada beberapa minibus yang lewat. Namun belum jua ada minibus yang berhenti sebagai respon atas lambaian tangannya. Sementara riuh rendah suara bising kendaraan dan teriakan pedagang asongan semakin memekakan gendang telinga. Akhirnya ada juga minibus yang berhenti menghampiri lambaian tangan bapak setengah baya itu. Bapak itu pun mempersilahkan aku untuk melompat ke atas minibus terlebih dahulu. Dengan sigap aku pun segera melompat. Sesaat kemudian aku telah berada di dalam minibus yang di maksud. Tanpa memperhatikan bapak setengah baya itu, aku segera mencari tempat duduk yang berada tepat di dekat jendela kaca, dan ternyata bapak setengah baya itu mengambil tempat duduk tepat di sebelah ku. Padahal masih banyak tempat duduk lainnya yang bisa beliau tempati. Akhirnya pembicaraanpun kembali berlangsung, saling tanya saling jawab, namun aku hanya menjawab seperlunya saja. Entahlah seperti ada rasa risih yang hinggap, yang membuat perasaanku menjadi was-was. Apalagi melihat caranya duduk dan caranya mengajak bicara, seolah ingin selalu dekat. Untungnya aku membawa barang bawaan yang bisa ku jadikan dinding pembatas sehingga beliau tak bisa duduk merapat ke arahku. Mulailah bapak itu mengarang sebuah cerita, cerita yang lumayan menarik namun membosankan bagi diriku.

Beliau mengaku kalau saat ini dirinya sedang menghadapi sebuah masalah menyangkut harta warisan keluarganya yang hanya akan beliau dapatkan apabila beliau telah jelas mempunyai seorang calon istri. Beliau menerangkan detail permasalahan dengn gaya bahasanya yang mungkin mampu melambungkan hayalan seseorang yang mudah terlena dengan iming-iming jutaan rupiah. Tapi maaf, tidak untukku. Aku seperti telah menebak apa ujung dari akhir ceritanya. Benar juga, akhirnya beliau memintaku untuk pura-pura menjadi calon istrinya dengan imbalan dua juta rupiah. Dengan sopan akupun menolak, tapi beliau terus berusaha menerangkan, memohon dan menghiba dengan berbagai kalimat yang intinya memelas, hingga membuatku curiga bahwa cerita itu hanyalah karangannya saja. Namun aku berusaha tuk tetap rileks seolah tidak menaruh rasa curiga terhadapnya. Tak terasa minibus yang kami tumpangi berhenti di sebuah jalan yang sangat besar dan bercabang-cabang, dan bapak setengah baya itu pun segera mengajakku untuk turun sementara dengan sigap tangannya meraih barang titipan temenku yang tadi ku jadikan dinding pemisah tempat duduk antara diriku dengan beliau. Kontan saja akupun segera turun mengikutinya, karena beliau telah mengambil barang titipan itu dan membawanya turun. Mau gak mau aku pun mengikuti langkah kakinya dengan penuh tanda tanya. Rasanya tidak mungkin aku berteriak dan lari karena aku sendiri tidak tahu di mana aku berada. Jika aku berteriak maka apa yang mesti aku teriakkan, karena sejauh ini bapak setengah baya itu tidak menjahatiku. Akhirnya ku hanya bisa mengikuti beliau sambil mencermati setiap ruas jalan raya di sekitarku.

Diantara riuh rendah kebisingan lalu lintas kota Jakarta saat itu, bapak setengah baya itu mengatakan bahwa pangkalan bus sinar jaya berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Akupun menoleh mengikuti arah telunjuk tangannya yang menunjuk ke arah jalan sepi di ujung jalan. Selanjutnya aku segera mengikuti bapak setengah baya itu menyeberangi kawasan jalan raya yang cukup lebar. "Maaf pak, biar saya bawa sendiri, ini punya temen saya." kataku mencoba meminta barang yang di bawanya. Namun beliau tidak memberikan barang titipan temenku itu. Terpaksa akupun terus mengikutinya. Kini kami telah berada di jalan raya yang sepi, di kanan kiri jalan di penuhi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Hatiku semakin was-was, mau di bawa kemana aku ini. Semakin berkecamuk perasaan dalam dadaku. Pikiranku mulai di hantui perasaan curiga yang berlebihan. Namun aku masih tetap pura-pura tenang, melangkah mengikuti langkahnya menyusuri sepinya jalan raya.

Dari kejauhan nampak seorang laki-laki mondar-mandir di tepian jalan, hatiku berdebar-debar tak karuan, jangan-jangan itu teman bapak ini. Kecemasan mulai hinggap memenuhi otakku. Tak henti-hentinya aku berdo'a memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Kalau bukan karena barang titipan temanku di bawa bapak itu, aku gak akan ngikuti langkah kakinya, pasti aku sudah ambil langkah seribu. Yang aku syukuri saat itu adalah aku tidak memakai rok. Yah... untungnya aku pakai celana jeans dan sepatu sport. Sehingga memudahkan bagiku jika nanti terpaksa harus berkelahi melawannya lalu lari sejauh-jauhnya. Sampai detik itu aku masih mencoba untuk bersikap tenang. Sambil terus mengikuti bapak itu aku memutar otakku, mencoba mencari jalan keluar seandainya terjadi hal-hal yang mungkin membahayakan keselamatan diriku.

Setidaknya hatiku cukup tenang karena aku punya sedikit bekal ilmu bela diri yang pernah ku pelajari sewaktu sekolah di tingkat SMP. Mau gak mau mungkin harus ku praktekan. Walau aku tahu aku belum tentu menang jika harus adu otot dengan pria dewasa berbadan kekar itu. Saat itulah tiba-tiba saja aku ingat nasehat dari seorang guru tata negara saat ku masih sekolah di SMA katholik. Bagaimana melumpuhkan lawan yang berbadan kekar sekalipun hanya dengan menggunakan satu ibu jari. Tanpa sadar akupun tersenyum sendiri, ketenangan batin mulai menyelinap di benakku. Dalam hati aku mulai bicara sendiri "biarin mati-mati, kalau gak aku yang mati ya lawan yang mati". Serasa menjadi orang terkejam saat itu. Kembali ku atur nafas sekedar tuk menenangkan dan mengontrol diri. Aku mulai menyusun strategi dalam otakku, dan tetap berusaha untuk bersikap tenang.

Jarak semakin dekat, dan akhirnya... "Alkhamdulillah..." pekik jerit hatiku mensyukuri kenyataan detik itu. Ternyata laki-laki yang mondar mandir itu bukanlah teman bapak setengah baya yang masih setia menenteng barang titipan sahabatku. Bapak setengah baya itu terus berjalan sambil tak henti-hentinya mengarang cerita seputar harta warisannya. Bosan aku mendengarnya, namun aku masih menunjukkan bahwa aku serius mendengarkan kisahnya, sambil manggut-manggut dan sesekali menampakkan wajah seolah aku merespon ceritanya. Akhirnya setelah melewati jalan raya yang sepi dan cukup panjang itu, sampailah kami di sebuah wartel dekat gerbang  pangkalan sinar jaya. Ada binar indah di mataku begitu mengetahui aku telah berada di tempat yang cukup strategis untuk lepas dari perhatian bapak setengah baya itu. Sesaat kemudian bapak setengah baya itu mengajakku masuk ke wartel tersebut dan  memintaku untuk menunggu sebentar karena ia hendak menelfon familinya untuk memberitahukan bahwa ia telah bersama calon istrinya. Wuih... gila... bergidik hatiku, betapa pede-nya beliau, ngaca deh ngaca... gerutu ku dalam hati.

Akupun hanya mengangguk dengan polosnya, dan membiarkan beliau masuk ke ruang kecil untuk menelfon familinya. Tiba-tiba ada angin segar datang menyerang urat syarafku, ternyata bapak itu meninggalkan barang tititpan sahabatku tepat di dekat kakiku. Kesempatan ini pun tidak aku sia-siakan. Begitu ku lihat dia sedang sibuk menekan tombol telfon dan mulai menelfon dengan bisik-bisik. Segera ku angkat barang titipan sahabatku dan dengan santai melangkah menuju pintu keluar dari wartel itu. Sesampainya di luar wartel, aku segera ambil langkah seribu. Lari...........

Aku segera berlari menuju kios pedagang asongan dan bertanya di mana aku bisa mendapatkan tiket bus sinar jaya. Pedagang asongan yang ku tanya segera menunjukkan loket penjualan ticket bus sinar jaya. Setelah itu aku segera berlari menuju loket penjualan tiket tersebut. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, aku segera memesan ticket yang ku butuhkan dan segera merogoh kocekku lalu menyodorkan nominal uang sesuai harga ticket untuk satu kali perjalanan sampai ke terminal tujuanku. Ternyata bus tidak langsung berangkat, dan masih menunggu waktu sekitar 45 menitan. Namun aku tidak mau menunnggu di ruang tunggu, dengn setengah berlari aku segera mencari bus sesuai dengan nomor yang tertera pada ticket bus yang ada di tanganku. Tidak terlalu sulit untukku menemukan bus tersebut. Dengan cepat aku melompat ke dalam bus dan duduk di bagian paling belakang. Segera ku atur dudukku menirukan cara duduk seorang anak berandalan, yah... kedua kaki kunaikkan ke atas besi yang tepat berada di depanku, sementara badan dan kepalaku ku sandarkan lebih rendah dari kaca jendela. Sehingga tidak mungkin terlihat dari luar bus.

Kedua penumpang yang berada tak jauh di depanku menoleh ke arahku untuk sesaat. Dan aku tak peduli dengan tatapan keduanya, aku sibuk mengatur nafasku yang masih tersengal-sengal. Aku pun masih terus waspada dan terus berdo'a semoga bapak setengah baya tadi tidak menemukanku. Tak berapa lama kemudian beberapa penumpang sudah mulai memenuhi bus antar kota ini, dan akhirnya bus yang ku tumpangi inipun pelan-pelan melaju meninggalkan pangkalan sinar jaya itu.

Alkhamdulillah... selamat aku... Segera aku memperbaiki cara dudukku. Kini akupun bisa duduk dengan tenang. Kembali ku terbayang saat-saat mencemaskan sepanjang perjalanan siang tadi bersama bapak setengah baya itu, yang entah bernama siapa. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu akan kebenaran cerita bapak setengah baya itu. Dan aku juga tidak peduli apa niatan yang sebenarnya ada di kepala bapak setengah baya tadi. Tidak ada maksud untuk su'udzon kepadanya, aku hanya mencoba untuk waspada dan menjaga diri dari berbagai bahaya yang mungkin mengintai diri ini.

Satu hal yang pasti, aku tidak tertarik dengan uang imbalan yang di tawarkannya, aku terus mengikuti bapak tadi karena bapak tadi membawa barang titipan temanku. Apapun bentuk barang itu, barang itu adalah amanah yang harus ku sampaikan pada keluarga sahabatku.

***Ini adalah pengalaman ku sewaktu ku masih di PJTKI Kelapa Gading jakarta, dan hendak cuti ke Jawa ***


Dimanapun kita berada, pastikan agar selalu bersikap tenang agar kita bisa berfikir tuk mencari jalan keluar tanpa kekerasan.  Karena belum tentu kita menang...  ^_^

Tuesday, May 17, 2011

*Biarkan Aku Pergi*

Ku coba mengukir senyum dalam anganku...
Senyum penuh tanya... untukmu...
Perkenalan dan jalinan kasih kita...
Hingga perpisahan...

Maafkan bila ku ambil keputusan ini...
Ku rasa... inilah yang terbaik buat kita...
Tak ada gunanya kita lanjutkan...
Biarlah berakhir sampai di sini...

Terlalu tinggi dinding penghalang...
Tak mungkin ku melompatinya...
Terlalu tebal dinding memisahkan...
Tak mungkin ku menembusnya...

Pertemuan kita adalah kenangan terindah...
Di bawah pohon yang rindang...
Saling berbagi cerita...
Kau nampak malu-malu...

Kau coba tutupi kekikukanmu...
Kala berhadapan dengan ku...
Kau nampak grogi saat duduk di dekat ku...
Kau nampak lebih manis dengan sikap mu kala itu...

Ku coba bersikap tenang...
Walaupun hati ku tak menentu...
Sesekali kau mencuri pandang...
Kala ku menunduk diam...

Pertemuan yang sungguh berkesan...
Kenangan yang tak mungkin terlupakan...
Aku sayang kamu...
Tapi... biarkanlah aku pergi...

Maafkanlah aku...
Ku tak bisa menggapai mimpi bersamamu...
Berbahagialah kau di sana...
Do'a ku kan slalu menyertaimu...

*Jalan Menuju Surga*

Roudhotul Jannah milik ILLAHI,
Taman bunganya harum mewangi


Marilah kita berlomba-lomba untuk mencapai Ridho ILLAHI
Marilah kita berlomba-lomba untuk mencapai taman surgawi

Kerjakan fardhu yang 5 waktu, tak lupa zakat juga puasa
Sibukkan diri dalam ketaatan, cegahlah diri dari keharaman
Perbanyak sholat sujud pada ALLAH
Niscaya kita kan sampai ke surga

Barang siapa sehari semalam jalankan sholat 12 raka'at
Niscaya di bangunkan untuknya rumah yang indah di dalam surga
4 raka'at sebelum dzhuhur, 2 raka'at usai dzhuhur dan maghrib
2 raka'at setelah isya dan 2 raka'at sebelum fajar

Adapun ciri penduduk surga, slalu mengagungkan ALLAH Yang Esa
Untaian dzikir terus mengalir, mencegah kemungkaran nan batil
Tak jemu untuk menuntut ilmu, Slalu berdakwah di jalan ALLAH



                    *Nyanyikanlah dengan nada lagu "Sebatang Pohon"*

*Asa di Hati Kecilku*

Seuntai harapan yang slalu terajut sempurna...
Bersemayam dalam relung jiwaku...
Mengajakku tuk slalu tersenyum...
Menyambut datangnya hari bahagia...

Tiada pernah ku merasa lelah...
Tuk wujudkan segala impian yang ada...
Impian tuk menggapai Cinta-Nya...
Allah Yang Esa...

Walau diri berlumur dosa...
Asa ku tak pernah sirna...
Tuk memohon kepada-Nya...
Ampuni segala dosa yang ada...

Hanya Allah Yang Esa...yang tahu segalanya...
Segala isi dalam dada... yang meronta meregang lara...
Hasrat yang kian membara dan berkecamuk dalam jiwa...
Betapa diri ini begitu hina...

Yaa Allah... hadirkanlah cinta-Mu...
Untuk hamba-Mu yang berlumur dosa ini...
Rengkuhlah hamba dalam dekapan hidayah-Mu...
Rebahkanlah hamba dalam taman surga-Mu...

*I Love You Baby*

I was sat under the tree
When you suddenly called my name
I tried to look around
Where that voice come from

The same time when the wind was blowing
I saw your face with the most sweety smile
So cute so handsome
And suddenly you run into my hug

You hug me very thigh
At that moment I was verry happy
You come to me
To meet me and hug me again

Almost two years we never meet each other
But now you in here
You looks more cute than before
You looks more handsome than before

But now you just 5 years old
Small boy with big eyes
Your parents really good luck
To have a son like you

I love you baby...   (((^_^)))


Monday, May 16, 2011

*Dermaga Kasih Biru*

Gemuruh lautan cinta
Syahdu menggema
Alunan ombak asmara
Riuh menggelora

Desir bayu mendayu
Isyaratkan buaian rindu
Pada palung rahasia qolbu
Dermaga kasih biru

Gurita pesona rasa
Berpendar kancah alengka
Pada bisik buih ombaknya
Tertawan nyanyian sukma

Bahtera cinta di ambang raga
Arungi luasnya samudera rasa
Menuju peraduan ternama
Dermaga kasih asmara

Dermaga kasih para perindu
Berwajah manies bermata sayu
Dermaga idaman jutaan qolbu
Dermaga kasih biru....

*Yakin Akan Takdir-Nya*

Hembus angin berbisik mesra mengusik
Senada denting gitar yang kau petik
Ciptakan suasana senja nan asyik
Diantara keharuman wangi bunga persik

Senja menjelajah angkasa
Bawa rinduku arungi indahnya nirwana
Kala tarian capung lembut berirama
Di atas persawahan ujung desa

Lambaian helai bunga padi
Isyaratkan nyanyian indah alami
Bangkitkan gairah di hati
Menapaki sebuah jalan bakti

Usah kau risaukan yang berlalu
Masih banyak yang datang menunggu
Jangan pernah lelah mencari ilmu
Tuk pengisi kekosongan qolbu

Dan gapailah hari demi hari
Dengan penuh percaya diri
Yakin akan takdir Illahi Robbi
Yang terbaik kan hadir menanti...