Wednesday, July 20, 2011

*Jiwaku Ada di Sana*

Ragaku masih di sini
Namun anganku tlah kembali
Ke pangkuan ibu pertiwi
Diantara desir angin beraroma wangi

Yah... di sana...
Diantara wangi hamparan tanah sawah
Diantara riuh tari capung berwarna
Dan detak kaki belalang sawah....

Diantara riuh gerak petani
Menuai kuningnya padi
Di bawah terik mentari
Menyinari luasnya bumi pertiwi

Di sanalah...
Angan dan hatiku kini berada
Diantara desir angin senja
Menawarkan berjuta rasa

Tumpukan jerami kian meninggi
Terpisahkan dari bulir-bulir padi
Para petani bergirang hati
Bulir padi padat berisi

Indahnya suasana desa
Melekat erat di belantara sukma
Aroma wanginya telah terasa
Merasuk di dalam jiwa

Ragaku masih di sini
Namun jiwaku tlah kembali
Menuai milyaran bulir padi
Di pangkuan ibu pertiwi...

Thursday, July 14, 2011

*Kisah Kasih Kita*


Gerimis deras siang tadi
Percikan kesejukan alami
Kala hembusan angin menyalami
Tubuh mungilku ini

Ku tatap hamparan perbukitan
Yang basah karena tetesan hujan
Meliuk bergoyangan
Dahan dan ranting bertarian

Hujan kini basahi bumi
Kesejukan tak terhindarkan lagi
Betapa kedamaian ku rasakan kembali
Dalam suasana hujan siang tadi

Sayang...
Kembali raut parasmu terbayang
Seolah berlalu lalang
Di batas mata memandang

Indahnya kenangan manis kita
Kini kembali menggoda
Memamerkan kisah asmara
Kala kita masih mesra menyapa

Semua terbayang nyata
Segar di wacana netra
Melambai tawarkan tanya
"Asa rindukah kau padanya...?"

Perlahan...
Ku hirup nafas bersahutan
Oksigen menelusup beraturan
Netralkan alam fikiran

Namun... di sana
Kisah kita kembali menyapa
Menyibakkan awal kita jumpa
Pada deret aksara yang tertata

Garis senyum tergores di wajahku
Demi mengenang awal indah itu
Santun salammu mengalun syahdu
Damaikan palung jiwaku

Dengan santun kau menyapa
Membawaku kembali ke alam desa
Canda tawa mengalir penuh pesona
Santun kata berbudi bahasa

Hari demi hari berlalu
Tiada hari terlewati tanpamu
Serasa telah bersama seribu tahun lalu
Kedekatan itu berbuah rindu

Rindu yang kian menggebu
Di batas zona terpadu
Diantara kelembutan kasih biru
Bertabur wangi bunga qolbu

Hingga suatu hari
Kau putuskan tuk kembali
Ke pangkuan ibu pertiwi
Tinggalkan kenangan di negeri sufi

Negeri di mana kau menggali
Risalah cinta sejati
Cinta putih Illahi Robbi
Yang Mulia dan sungguh berarti

Menjelang kepulanganmu
Kau kirimkan pesan padaku
Sebagai bukti kesungguhanmu
Menjalin kasih denganku

Setibanya di negeri tercinta
Hubungan kita semakin nyata
Tak sekedar lewat tatanan kata
Ataupun fasilitas dunia maya

Sayang....
Keindahan masa itu slalu terbayang
Manis terkenang
Bagai bias cahaya bintang

Hangatnya canda kita kala itu
Buatku semakin rindu
Akan kehadiran dirimu
Di sisiku....

Tibalah detik-detik penentu
Kelanjutan kisah kasih biru
Kala kau memintaku
Tuk meninggalkan negeri tirai bambu

Namun nyatanya....
Takdir masih enggan menyapa kita
Tuk menjalin biduk rumah tangga
Dan menyempurnakan separuh agama

Masih ada amanah di pundak Asa
Tiada mungkin biarkan terlunta
Maafkan tlah buatmu kecewa
Menabur kesedihan dalam dada

Seiring waktu berlalu
Sadarku akan kekuranganku
Diri ini tak pantas untukmu
Tak seharusnya menjalin kasih denganmu

Pertemuan dan perpisahan
Semua telah di gariskan
Mari... kita jalankan
Dengan penuh keikhlasan

Agar tiada hati tersakiti
Dengan adanya perpisahan ini
Senyum kita kan tetap berseri
Walau takdir masih belum menghampiri...

Wednesday, July 13, 2011

*Mengapa Harus Sembunyi*


Kau... yang ada di sana
Berdiri mematung tanpa kata
Hadirmu di sudut istana
Sekedar memantau suasana

Dan aku... di sini...
Senantiasa menanti kau kembali
Mengisi hari demi hari
Dengan alunan merdu suara hati

Kau...yang setia di sana
Menghampiri beranda istana
Terdiam tanpa kata-kata
Namun netramu menyapu beranda

Dan aku... di sini...
Di balairung istana biru ini
Setia menanti...
Suara merdumu memanggil diri

Mengapa... oh... mengapa...
Kau sembunyi di sudut istana
Lihatlah seisi istana tlah siaga
Tuk menyambutmu dengan mesra

Tiada guna lagi
Sembunyikan hati
Bila nyatanya kau ingin kembali
Mengulang masa yang tlah pergi

Sejujurnya masih ada rasa
Tersimpan di pergolakan asa
Dalam aroma segar tiada tara
Mendamba hadirmu duhai kakanda

Namun... kini...
Aku sadari....
Diri ini... tiada berarti
Tak sepantasnya untuk kau miliki

Sejatinya... ku masih merasa
Hangatnya tatap manja
Kala pijar sorotan mata
Membias di pelataran istana

Sejauh mana kau hapus jejak diri
Hingga tak kuasa kau tinggal pergi
Sedalam apa kau kubur rasa di hati
Hingga bayangku masih saja kau ikuti

Mengapa harus sembunyi dari kenyataan
Bila nyatanya kau takut kehilangan
Mengapa harus ciptakan kebohongan
Bila hatimu penuh pengharapan

Cinta yang hadir memeluk diri
Adalah anugerah Illahi
Sepatutnyalah kita syukuri
Jangan pernah coba kau pungkiri

Selagi masih ada kesempatan
Baiknya segera kau katakan
Dengan penuh kejujuran
Segala rasa cinta yang kau sembunyikan

Jangan pernah menunda lagi
Jika tak ingin waktu berlalu pergi
Melewati kesempatan yang berarti
Dan tinggalkan penyesalan diri...

*Manjamu Tlah Kembali*


Lihat-lihatlah...
Manjamu kembali membuncah
Gurauanmu kembali pecah
Senyumanku pun kembali merekah

Kini... terbayang lagi...
Hangat senyuman yang dulu hiasi
Wajah santunmu... duhai kekasih hati
Hasratku ingin kembali...

Nikmati hari yang tlah berganti
Nikmati musim yang tlah menepi
Nikmati waktu yang tlah terbagi
Tuk kembalikan asa jiwa ini

Sayang...
Keberadaanmu yang terlelang
Menepi di padang gersang
Bagai belalang di padang usang

Kini... tiada lagi...
Tawamu telah kembali
Menghiasai indahnya bumi
Mewarnai pelataran hati

Wajahmu pun kembali cerah
Secerah senyum jabang bayi merah
Di peraduan indah nan megah
Kala fajar menabur berkah...

Sayang...
Sebentar lagi aku kan kembali pulang
Melepas rindu yang sempat terselang
Oleh alunan waktu yang terbentang

Tak terbayangkan...
Indahnya pertemuan
Setelah sekian lama berjauhan
Merunut rindu yang tak berkesudahan

Rasanya...
Aku ingin tuk segera
Terbang ke alam sana
Menjemput indahnya rasa

Yang tersembunyi di balik mimpi
Diantara liku mutiara hati
Menyelinap mengintip pagi
Kala netra melirik senyum mentari...

Tuesday, July 12, 2011

*Nikmati Dan Syukuri*


Suasana hati...
Kadang senang kadang benci
Slalu menghiasi hari demi hari
Silih berganti...

Lihatlah...
Duniapun tak selalu cerah
Kadang mendung tak terarah
Mentari tak lagi merekah indah

Cobalah tuk nikmati
Segala anugerah Illahi Robbi
Dengan penuh syukur dalam diri
Agar kau tahu indahnya pesan Illahi

Yang hadir menyapa
Lewat masa suka maupun duka
kala anugerah menjelma
Di bentangan kisah tak terduga

Teliti dan pahami...
Hikmah mulia akan kau dapati
Pada jiwa-jiwa nan murni
Beribadah demi Illahi...

Menggapai mimpi yang ada
Dengan segenap daya dan upaya
Serta untaian do'a...
Di sepertiga malam-malamnya

Dalam hening sepi
Khusyuk dekatkan diri
Menghadap Illahi Robbi
lantunkan puja dan puji

Bermunajat kepada-Nya
Penguasa alam raya
Maha Pendengar segala do'a
Maha Pemberi segala pinta

Ada kalanya kisah yang terjadi
tak sesuai keinginan hati
Nikmati dan syukuri
Agar hidupmu lebih berarti

Tanamkan kesabaran dalam jiwa
tanamkan ketulusan dalam sukma
Tuk jalani segala kisah yang tercipta
Ikhlas menerima takdir dan ketentuan-Nya...

*Sirnalah Duka*


Berjuta manusia tercipta
Berjuta kesempurnaan ada di sana
Berjuta karakter melekat manja
Tiada dapat kau temukan yang persis sama

Bila saatnya tiba tuk saling menyapa
Dan kau masih sendiri saja
Bukan berarti kau setia menanti senja
dan kau lebih tahu apa artinya

Dua hati memilih tuk berpisah
Terpapar sudah bait-bait petuah
Iringi jalur luas megah lagi indah
Diantara bentangan samudera penghalau gundah

Lelahku... meraba kisah dalam jelaga
Jelas tergambar cerminan bening wajah lembutnya
Terdiam ku balut resah yang dulu ada
Sirnalah duka berganti suka cita yang kian membahana

Menghiasi dinding-dinding istana sukma
Dengan cahaya biru yang menyala
Seterang kilauan indah mutiara rasa
Di lorong hati para pecinta

Sirnalah duka...
Berganti suka dan cita
Senyumpun kembali merona
Sebagai wujud keikhlasan rasa

Menerima segala yang ada
Dengan keteguhan hati dan rasa
Karena di sana...
Allah senantiasa menjaga....

*Bidadari Istana Biru*


Masih terngiang lembut suaramu
Di senja itu...
Enggan rasanya hatiku
Melepas kesyahduanmu

Sisi senyap ruang batinku
Kini membisu...
Menerawangkan sejengkal pilu
Dalam rindu...

Terpahat kuat dalam hatiku
Aku bukan bidadari istana biru
Dalam kehangatan kain beludru
Bernuansa syahdu di ujung rindu

Aku hanyalah bidadari istana biru
Dengan segala kekurangan dalam diriku
Dan segenap keterbatasanku
Meniti hidup tanpa ragu

Pada awanan langit biru
Ku coba ukir semangat baru
Menghalau gelegar yang berseteru
Di sepanjang kabut kelabu

Bidadari istana biru
Yang kini di hadapanmu
Bukan bidadari bermata biru
Yang bermahkotakan emas bermutu

Hanya bidadari pelantun rindu
Lewat untaian kata yang menyatu
Di pelataran blog istana biru
Tuk menyambut kehadiranmu

Menyegarkan kembali ingatanmu
Akan keindahan langit biru
Membawamu kembali menuju
Pada kelembutan kasih nan biru

Kelembutan kasih dari qolbu
Selembut kasih ibu
Yang menyimpan berjuta rindu
Melukis kelebat senyum manismu

Tiada yang istimewa dari diriku
Bidadari istana biru
Istana di pedalaman qolbu
Diantara riuh alunan symphoni rindu....

Sunday, July 10, 2011

*Aku Merindukanmu*


Kelebat bayangmu melintas
Di ujung gelap malam
Terbayang kisah yang belum tuntas
Kala diri hanyut tenggelam

Tenggelam dalam syahdunya asmara
Kala indahnya rasa menari
Diantara megahnya istana rasa
Di sana berdua kita nikmati

Nikmati indahnya gejolak
Nikmati renyahnya gelora
Di sana semua rasa bertolak
Selembut desir angin padang sahara

Canda tawa renyah menyapa
Tiada hari terlewati sendiri
Rasa di jiwa syahdu melaga
Bersamamu lewati hari

Kini... semua berlalu
Tinggalkan kenangan manis
Masa indah awal bertemu
Hingga mata harus menangis

Singkat yang berkesan
Buah rindu yang terjalin
Jalinan lewat tulisan
Lebih erat dari tali penjalin

Tangis itu hanya sesaat
Kala tak kuasa menahan rasa
Rasa yang sungguh berat
Ketika perpisahan menyapa kita

Kini... jalinan masih tetap indah
Seindah melody di senja hari
Kala desir angin menyapa ramah
Membelai wajah ini

Gelak tawamu
Masih senantiasa terdengar
Walau takdir belum menjamu
Dua rasa yang masih tersandar

Dengarlah...
Ada rindu di persimpangan qolbu
Yang kini datang tuk singgah
Ya... aku merindukanmu

Biasanya...
Langsung ku dengar suaramu
Yang slalu renyah menyapa
Dengan tawa khas dirimu

Kau hapus segala gundah
Dengan segala canda
Hingga tawaku kembali pecah
Itu semua karena kakanda...

Wednesday, July 6, 2011

*Mawar Merah*



Mawar merah...
Tumbuh mekar merekah
Sosokmu begitu cantik alami
Tampilanmu memikat hati

Ku lihat dirimu
Tumbuh di taman itu
Batang tangkaimu berayun-ayun
Seiring desir bayu menyapa santun

Mawar merah...
Bila kelopakmu telah merekah
Keanggunanmu tak di ragukan
Keluwesanmu sangat menyejukkan

Dari generasi ke generasi
Menjadikanmu sebagai inspirasi
Gambaran akan indahnya cinta
Serta lambang kasih nan mesra

Dan kini...
Aku datang menghampiri
Sekedar merasakan wangimu
Sebagai ungkapan kekagumanku

Hemmm... harum mewangi
Segar menelusup ke hati
Betapa sempurna kau tercipta
Mekar indah mewarna...

Luasnya taman istana kau hiasi
Dengan keharuman alami
Mempercantik sejuknya taman istana
Memperindah wajah alam semesta

Mawar merah...
Kau selalu tampil indah
Di taman-taman serambi istana
Meliuk menarikan tarian salsa

Lembut anggun menarik hati
Elok manis hiasi bumi
Merahmu mewarna slalu
Hingga waktu yang tiada tertentu....

*Ku Persembahkan Untukmu*



Pada senyum yang terlukis di wajahku
Tiada keterpaksaan
Senyumku itu dari dalam qolbu
Kan slalu ku persembahkan

Hari-hari yang nanti kita lalui
Kan terisi dengan kedamaian hati
Lukisan senyum kan mendahului
Membuka cakrawala pagi

Dan harapku...
Kau pun membalasnya
Dengan senyum terindahmu
Sejak pagi buta

Hingga hari berganti
Dan senja kembali merona
Menjemput malam yang hadir menepi
Tuk menyisir pekat bermakna

Hingga perputaran waktu
Kembali menyapa pagi
Terus melaju
Mengukir kisah kasih suci

Kaulah kekasih hatiku
Yang kan selalu aku rindukan
Dan kau yang setia temani hidupku
Sampai batas nafas penghabisan

Tak ada yang dapat aku beri
Hanya lukisan senyum di wajahku
Yang kan slalu menghiasi
Sebagai wujud rasa syukurku

Atas segala karunia Illahi
Dan atas kesediaan dirimu
Menerima dan mendampingi diri
Menapaki hari dan menyisir jejak sang waktu

Hanya senyum tulus dari hati
Yang mampu aku persembahkan
Untukmu duhai kekasih hati
Yang ku harap penuh keikhlasan...

Sunday, July 3, 2011

*Seindah Mekarnya Bunga*


Ada rasa ...
Di relung jiwa
Tumbuh mekar berseri
Indah... harum mewangi

Ada rindu...
Di relung qolbu
Kian tumbuh bergelora
Syahdu...bersymphoni cinta

Ada bahagia...
Serasa penuhi dunia
Kala indahnya rasa
Tumbuh bersemi di dalam dada

Seindah mekarnya bunga
Gelora rasa di palung jiwa
Penuh alur nan berliku
Rasa kini melanda jiwaku

Seindah mekarnya bunga
Getar rindu dalam dada
Mengalun mesra
Penuh pesona...

Seindah mekarnya bunga
Cinta yang kini ku rasa
Kian tumbuh indah
Berseri menuai berkah...