Thursday, July 14, 2011

*Kisah Kasih Kita*


Gerimis deras siang tadi
Percikan kesejukan alami
Kala hembusan angin menyalami
Tubuh mungilku ini

Ku tatap hamparan perbukitan
Yang basah karena tetesan hujan
Meliuk bergoyangan
Dahan dan ranting bertarian

Hujan kini basahi bumi
Kesejukan tak terhindarkan lagi
Betapa kedamaian ku rasakan kembali
Dalam suasana hujan siang tadi

Sayang...
Kembali raut parasmu terbayang
Seolah berlalu lalang
Di batas mata memandang

Indahnya kenangan manis kita
Kini kembali menggoda
Memamerkan kisah asmara
Kala kita masih mesra menyapa

Semua terbayang nyata
Segar di wacana netra
Melambai tawarkan tanya
"Asa rindukah kau padanya...?"

Perlahan...
Ku hirup nafas bersahutan
Oksigen menelusup beraturan
Netralkan alam fikiran

Namun... di sana
Kisah kita kembali menyapa
Menyibakkan awal kita jumpa
Pada deret aksara yang tertata

Garis senyum tergores di wajahku
Demi mengenang awal indah itu
Santun salammu mengalun syahdu
Damaikan palung jiwaku

Dengan santun kau menyapa
Membawaku kembali ke alam desa
Canda tawa mengalir penuh pesona
Santun kata berbudi bahasa

Hari demi hari berlalu
Tiada hari terlewati tanpamu
Serasa telah bersama seribu tahun lalu
Kedekatan itu berbuah rindu

Rindu yang kian menggebu
Di batas zona terpadu
Diantara kelembutan kasih biru
Bertabur wangi bunga qolbu

Hingga suatu hari
Kau putuskan tuk kembali
Ke pangkuan ibu pertiwi
Tinggalkan kenangan di negeri sufi

Negeri di mana kau menggali
Risalah cinta sejati
Cinta putih Illahi Robbi
Yang Mulia dan sungguh berarti

Menjelang kepulanganmu
Kau kirimkan pesan padaku
Sebagai bukti kesungguhanmu
Menjalin kasih denganku

Setibanya di negeri tercinta
Hubungan kita semakin nyata
Tak sekedar lewat tatanan kata
Ataupun fasilitas dunia maya

Sayang....
Keindahan masa itu slalu terbayang
Manis terkenang
Bagai bias cahaya bintang

Hangatnya canda kita kala itu
Buatku semakin rindu
Akan kehadiran dirimu
Di sisiku....

Tibalah detik-detik penentu
Kelanjutan kisah kasih biru
Kala kau memintaku
Tuk meninggalkan negeri tirai bambu

Namun nyatanya....
Takdir masih enggan menyapa kita
Tuk menjalin biduk rumah tangga
Dan menyempurnakan separuh agama

Masih ada amanah di pundak Asa
Tiada mungkin biarkan terlunta
Maafkan tlah buatmu kecewa
Menabur kesedihan dalam dada

Seiring waktu berlalu
Sadarku akan kekuranganku
Diri ini tak pantas untukmu
Tak seharusnya menjalin kasih denganmu

Pertemuan dan perpisahan
Semua telah di gariskan
Mari... kita jalankan
Dengan penuh keikhlasan

Agar tiada hati tersakiti
Dengan adanya perpisahan ini
Senyum kita kan tetap berseri
Walau takdir masih belum menghampiri...

No comments:

Post a Comment