![]()
Gerimis deras siang tadi
Percikan kesejukan alami
Kala hembusan angin menyalami
Tubuh mungilku ini
Ku tatap hamparan perbukitan
Yang basah karena tetesan hujan
Meliuk bergoyangan
Dahan dan ranting bertarian
Hujan kini basahi bumi
Kesejukan tak terhindarkan lagi
Betapa kedamaian ku rasakan kembali
Dalam suasana hujan siang tadi
Sayang...
Kembali raut parasmu terbayang
Seolah berlalu lalang
Di batas mata memandang
Indahnya kenangan manis kita
Kini kembali menggoda
Memamerkan kisah asmara
Kala kita masih mesra menyapa
Semua terbayang nyata
Segar di wacana netra
Melambai tawarkan tanya
"Asa rindukah kau padanya...?"
Perlahan...
Ku hirup nafas bersahutan
Oksigen menelusup beraturan
Netralkan alam fikiran
Namun... di sana
Kisah kita kembali menyapa
Menyibakkan awal kita jumpa
Pada deret aksara yang tertata
Garis senyum tergores di wajahku
Demi mengenang awal indah itu
Santun salammu mengalun syahdu
Damaikan palung jiwaku
Dengan santun kau menyapa
Membawaku kembali ke alam desa
Canda tawa mengalir penuh pesona
Santun kata berbudi bahasa
Hari demi hari berlalu
Tiada hari terlewati tanpamu
Serasa telah bersama seribu tahun lalu
Kedekatan itu berbuah rindu
Rindu yang kian menggebu
Di batas zona terpadu
Diantara kelembutan kasih biru
Bertabur wangi bunga qolbu
Hingga suatu hari
Kau putuskan tuk kembali
Ke pangkuan ibu pertiwi
Tinggalkan kenangan di negeri sufi
Negeri di mana kau menggali
Risalah cinta sejati
Cinta putih Illahi Robbi
Yang Mulia dan sungguh berarti
Menjelang kepulanganmu
Kau kirimkan pesan padaku
Sebagai bukti kesungguhanmu
Menjalin kasih denganku
Setibanya di negeri tercinta
Hubungan kita semakin nyata
Tak sekedar lewat tatanan kata
Ataupun fasilitas dunia maya
Sayang....
Keindahan masa itu slalu terbayang
Manis terkenang
Bagai bias cahaya bintang
Hangatnya canda kita kala itu
Buatku semakin rindu
Akan kehadiran dirimu
Di sisiku....
Tibalah detik-detik penentu
Kelanjutan kisah kasih biru
Kala kau memintaku
Tuk meninggalkan negeri tirai bambu
Namun nyatanya....
Takdir masih enggan menyapa kita
Tuk menjalin biduk rumah tangga
Dan menyempurnakan separuh agama
Masih ada amanah di pundak Asa
Tiada mungkin biarkan terlunta
Maafkan tlah buatmu kecewa
Menabur kesedihan dalam dada
Seiring waktu berlalu
Sadarku akan kekuranganku
Diri ini tak pantas untukmu
Tak seharusnya menjalin kasih denganmu
Pertemuan dan perpisahan
Semua telah di gariskan
Mari... kita jalankan
Dengan penuh keikhlasan
Agar tiada hati tersakiti
Dengan adanya perpisahan ini
Senyum kita kan tetap berseri
Walau takdir masih belum menghampiri...