Friday, May 20, 2011

--> Uang Logam ikutan Demo <--


Sebuah batu yang di ikat pada ujung tali rafia sepanjang kurang lebih 30 meteran, di lemparkan ke atas puncak Aula yang mencapai tinggi sekitar 25 meter. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan karena meleset, akhirnya batu itu pun bisa melompati besi terdekat dengan puncak Aula. Pelan-pelan batu itupun di turunkan kemudian di tariklah tali rafia yang bagian ujung lainnya telah di ikatkan dengan tali karmentel yang panjangnya kurang lebih mencapai 50 meteran. Salah seorang senior yang lebih ahli di bidang ini pun segera mengikatkat ujung tali karmentel yang telah berhasil dikaitkan dengan besi di puncak menara. Ujung yang satu segera di ikatkan di pilar penyangga Aula itu. Sementara seorang teman yang telah lengkap memakai webbing di badannya segera memasang dua buah tali prusik pada tali karmentel yang menggantung itu.

Setelah alat yang di butuhkan semua di siapkan, mulailah dia memanjat menara melalui tali karmentel itu. Beberapa saat kemudian sampailah ia di atas besi pada ketinggian kurang lebih 25 meter itu. Dia pun mulai melaksanakan tugasnya, yaitu mengikat tali karmentel sedemikian rupa pada besi di atas sana. Hingga ujung tali karmentel yang di ikatkan di pilar penyangga itupun di lepaskan. Hasilnya kini dua tali menggantung di siapkan untuk pemanjat lainnya.

Yah, hari itu adalah saatnya kami untuk melakukan demonstrasi ORAB (Olah Raga Alam Bebas) tentang pecinta alam dan kegiatan pemanjatan. Tahun ajaran baru siswa siswi SMA YOS SUDARSO Sokaraja 1996/1997. Semua nampak sibuk, organisasi pecinta alam YODAPALA siap mendemonstrasikan pemanjatan ke puncak aula. Sesaat kemudian seluruh siswa-siswi kelas 1 telah datang memenuhi aula. Aku bersama teman2ku menyiapkan diri dengan memasang webbing yg panjangnya sekitar 3 meteran pada diri masing-masing. Sementara seksi ORAB mulai memperkenalkan berbagai jenis peralatan dan kekuatan masing-masing dari peralatan tersebut.

Saatnya tiba, aku dan temanku di panggil untuk memperagakan pemanjatan. Dengan sedikit grogi akupun mulai melangkah dan mulailah aku menggantung di tali karmentel itu. Badan kecilku bergelantungan di tali karmentel, sementara ratusan mata memandang ke arahku... dag dig dug... rasanya jantungku...
Namun aku coba menetralisir suasana hatiku untuk tetap tenang. Tugasku saat itu adalah memperagakan diri untuk menggantung dengan melepaskan kaki dari pijakan tali prusik dan kedua tangpun tidak berpegangan pada tali karmentel.

Yah, saatnya tiba... pada ketinggian sekitar 20 meter aku pun mulai melepaskan kakiku dari pijakanku dan melepaskan peganganku, sehingga hanya tali webbing di perutku yang masih menggantung pada tali prusik. Tanpa pikir panjang, ku jatuhkan badanku kebelakang hingga membentuk posisi kayang di awang-awang, yah... posisi kayang di atas ketinggian 20 meter. Saat itulah sesuatu yang terduga terjadi, sesuatu di luar rencana terjadi dengan tiba-tiba dan sangat mengejutkanku.

Pada saat yang sama tiba-tiba 3 uang logam Rp.100,- dalam saku bajuku terjun ke lantai Aula. Semua bersorak begitu ramai. Sementara di atas sana aku lihat salah seorang rekanku memunguti uang logam yang baru saja meluncur dari saku bajuku. Aduh... malunya... kenapa pas jadi pusat perhatian eh tuh uang logam ikut-ikutan meluncur... bikin suasana Aula tambah ramai. Ku lihat bapak dan ibu gurupun pada ketawa semua...  ^_^

Dengan menahan rasa gak karuan akhirnya ku kembali pada posisi semula dan melanjutkan pemanjatan untuk mencapai puncak Aula. Akhirnya sampai juga, salah seorang kawanku sgera menyambutku dan membantuku untuk duduk di atas besi yang memanjang di puncak Aula.

Beberapa saat kemudian adegan untuk meluncur turun. Kawanku meluncur dengan kepala di bawah, sementara aku meluncur dengan posisi duduk menggantung. Kami meluncur melalui tali karmentel yang tadi kami gunakan untuk memanjat. Siswa-siswi kelas satu nampak serius memperhatikan, sehingga terkesan tegang. Namun setelah kami sampai pada dasar Aula, tepuk tanganpun kembali ramai terdengar.

Aku segera berlari ke arah teman-teman di balik dinding, sambil menahan malu gara-gara uang logam yang jatuh tadi. Sementara itu teman-temanku masih pada senyum-senyum sambil menggodaku "Recehnya ikut atraksi juga non..." Duh... malunya...
Akhirnya saat itu juga aku ingat kalau uang logam itu adalah uang kembalian saat beli es tadi.

Sebuah batu yang di ikat pada ujung tali rafia sepanjang kurang lebih 30 meteran, di lemparkan ke atas puncak Aula yang mencapai tinggi sekitar 25 meter. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan karena meleset, akhirnya batu itu pun bisa melompati besi terdekat dengan puncak Aula. Pelan-pelan batu itupun di turunkan kemudian di tariklah tali rafia yang bagian ujung lainnya telah di ikatkan dengan tali karmentel yang panjangnya kurang lebih mencapai 50 meteran. Salah seorang senior yang lebih ahli di bidang ini pun segera mengikatkat ujung tali karmentel yang telah berhasil dikaitkan dengan besi di puncak menara. Ujung yang satu segera di ikatkan di pilar penyangga Aula itu. Sementara seorang teman yang telah lengkap memakai webbing di badannya segera memasang dua buah tali prusik pada tali karmentel yang menggantung itu.

Setelah alat yang di butuhkan semua di siapkan, mulailah dia memanjat menara melalui tali karmentel itu. Beberapa saat kemudian sampailah ia di atas besi pada ketinggian kurang lebih 25 meter itu. Dia pun mulai melaksanakan tugasnya, yaitu mengikat tali karmentel sedemikian rupa pada besi di atas sana. Hingga ujung tali karmentel yang di ikatkan di pilar penyangga itupun di lepaskan. Hasilnya kini dua tali menggantung di siapkan untuk pemanjat lainnya.

Yah, hari itu adalah saatnya kami untuk melakukan demonstrasi ORAB (Olah Raga Alam Bebas) tentang pecinta alam dan kegiatan pemanjatan. Tahun ajaran baru siswa siswi SMA YOS SUDARSO Sokaraja 1996/1997. Semua nampak sibuk, organisasi pecinta alam YODAPALA siap mendemonstrasikan pemanjatan ke puncak aula. Sesaat kemudian seluruh siswa-siswi kelas 1 telah datang memenuhi aula. Aku bersama teman2ku menyiapkan diri dengan memasang webbing yg panjangnya sekitar 3 meteran pada diri masing-masing. Sementara seksi ORAB mulai memperkenalkan berbagai jenis peralatan dan kekuatan masing-masing dari peralatan tersebut.

Saatnya tiba, aku dan temanku di panggil untuk memperagakan pemanjatan. Dengan sedikit grogi akupun mulai melangkah dan mulailah aku menggantung di tali karmentel itu. Badan kecilku bergelantungan di tali karmentel, sementara ratusan mata memandang ke arahku... dag dig dug... rasanya jantungku...
Namun aku coba menetralisir suasana hatiku untuk tetap tenang. Tugasku saat itu adalah memperagakan diri untuk menggantung dengan melepaskan kaki dari pijakan tali prusik dan kedua tangpun tidak berpegangan pada tali karmentel.

Yah, saatnya tiba... pada ketinggian sekitar 20 meter aku pun mulai melepaskan kakiku dari pijakanku dan melepaskan peganganku, sehingga hanya tali webbing di perutku yang masih menggantung pada tali prusik. Tanpa pikir panjang, ku jatuhkan badanku kebelakang hingga membentuk posisi kayang di awang-awang, yah... posisi kayang di atas ketinggian 20 meter. Saat itulah sesuatu yang terduga terjadi, sesuatu di luar rencana terjadi dengan tiba-tiba dan sangat mengejutkanku.

Pada saat yang sama tiba-tiba 3 uang logam Rp.100,- dalam saku bajuku terjun ke lantai Aula. Semua bersorak begitu ramai. Sementara di atas sana aku lihat salah seorang rekanku memunguti uang logam yang baru saja meluncur dari saku bajuku. Aduh... malunya... kenapa pas jadi pusat perhatian eh tuh uang logam ikut-ikutan meluncur... bikin suasana Aula tambah ramai. Ku lihat bapak dan ibu gurupun pada ketawa semua...  ^_^

Dengan menahan rasa gak karuan akhirnya ku kembali pada posisi semula dan melanjutkan pemanjatan untuk mencapai puncak Aula. Akhirnya sampai juga, salah seorang kawanku sgera menyambutku dan membantuku untuk duduk di atas besi yang memanjang di puncak Aula.

Beberapa saat kemudian adegan untuk meluncur turun. Kawanku meluncur dengan kepala di bawah, sementara aku meluncur dengan posisi duduk menggantung. Kami meluncur melalui tali karmentel yang tadi kami gunakan untuk memanjat. Siswa-siswi kelas satu nampak serius memperhatikan, sehingga terkesan tegang. Namun setelah kami sampai pada dasar Aula, tepuk tanganpun kembali ramai terdengar.

Aku segera berlari ke arah teman-teman di balik dinding, sambil menahan malu gara-gara uang logam yang jatuh tadi. Sementara itu teman-temanku masih pada senyum-senyum sambil menggodaku "Recehnya ikut atraksi juga non..." Duh... malunya...

Akhirnya saat itu juga aku ingat kalau uang logam itu adalah uang kembalian saat beli es tadi.

No comments:

Post a Comment